Kiat Sukses JKN BPJS


Agar sukses dalam pelaksanaan BPJS maka faskes harus lebih memperhatikan biaya. Tidak dipungkiri bahwa dalam penyelenggaraan layanan kesehatan seperti di Rumah sakit masih banyak terjadi pemborosan biaya. Baik dalam perencanaan seperti perencanan bangunan, peralatan, system, Manajemen SDM dan pemborosan dalam proses layanan seperti medical error, nosokomial, obat dan bahan habis pakai juga utilisasi alat.

Dalam melakukan perencanaan bangunan maka perlu “Rekayasa” bangunan yang sudah ada fungsi agar sesuai dengan pelayanan dan Estetika. Perencanaan dimulai dari structure follow function yaitu alur pasien dengan melihat utilisasi bailk di rawat inap, rawat jalan dan unit lain sekaligus memperhatikan aspek green hospital. Bila perlu melakukan kerjasama / benchmark dengan faskes lain untuk meningkatkan mutu layanan. Bagian farmasi perlu mengendalikan pemakaian obat dengan berbasis formularium, PPK dan juga Clinical Pathway.

Pemborosan dalam Manajemen SDM dapat dihindari dengan melakukan pencegahan dimulai saat penerimaan pegawai. Dalam penerimaan pegawai perlu memperhitungkan, umur, Kesehatan, pengalaman, kompetensi (Skill, Knowledge & Attitude). Manajemen SDM harus mampu menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat pula. Untuk menjaga retensi pegawai perlu ada Take home pay memadai yang disesuaikan dengan kompetensi dan pengalamannya dan juga memberi pelatihan. Adanya kejelasan mengenai reward dan punishment terhadapa karyawan. Manajemen harus mampu untuk menerapkan budaya sadar biaya dengan tidak boros. Rekrutmen SDM perlu sesuai dengan beban kegiatan dan kualifikasi sehingga perlu dipastikan apa betul kurang tenaga. Otomatisasi fungsi SDM dengan komputer isasi dan system informasi juga salah satu penghematan SDM.

Dalam proses Layanan Medical error dan infeksi nosokomial, obat & BHP, LOS lebih panjang akan membuat biaya meningkat. Hal ini akan memberatkan cost pelayanan sehingga berimbas pada tidak tercovernya biaya JKN yang ada. Salah satu penyebabnya adalah fasilitas kesehatan belum menyusun dan menetapkan PPK, Clinical pathway yang berkaitan dengan penggunaan obat, utilisasi lab dan pemeriksaan penunjang seperti radiologi. Hal tersebut bisa menyebabkan tak terkendalinya pemakian obat dan pemeriksaan penunjang yang akhirnya biaya meningkat. 

Pengendalian biaya dapat dilakuakan pada pengadaan alat medis dengan melihat spesifikasi, merk, buatan mana, after sale service, harga, Kegunaan (compulsory) penggunaan (Utilization),Life time,mudah atau sulit dioperasionalkan,cara menggunakan,maintenance. Semua hal tersebut akan menentukan besar kecilnya biaya yang akan dikeluarkan alat tersebut. Pengendalian biaya pada Obat dan Bahan habis pakai dengan cara Standarisasi obat dan BHP, Generik, non generic, Buatan mana,SPO,Kebijakan pemanfaatan,Just In Time,Cara menggunakan Obat,Pengawasan,Pengelolaan. Sedangkan pengendalian pada makanan dilakukan saat Pembelian bahan,Penyimpanan Bahan makanan kering,Penyimpanan Bahan makanan basah,Menu, Cara pengolahan,Distribusi,Penggunaan peralatan masak sperti penggunaan Gas / elektrik / kayu bakar.