Syarat Rumah Sakit Umum Tipe C

Syarat rumah sakit umum tipe c - Rumah Sakit Umum Kelas C harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) Pelayanan Medik Spesialis Dasar dan 4 (empat) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik. Kriteria, fasilitas dan kemampuan Rumah Sakit Umum Kelas C meliputi Pelayanan Medik Umum, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Medik Spesialis Dasar, Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut, Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan, Pelayanan Penunjang Klinik dan Pelayanan Penunjang Non Klinik.

Pelayanan Medik Umum rumah sakit umum tipe c terdiri dari Pelayanan Medik Dasar, Pelayanan Medik Gigi Mulut dan Pelayanan Kesehatan Ibu Anak /Keluarga Berencana. Pelayanan Gawat Darurat harus dapat memberikan pelayanan gawat darurat 24 (dua puluh) jam dan 7 (tujuh) hari seminggu dengan kemampuan melakukan pemeriksaan awal kasus-kasus gawat darurat, melakukan resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar.


Pelayanan Medik Spesialis Dasar terdiri dari Pelayanan Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah, Obstetri dan Ginekologi. Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut rumah sakit umum tipe c minimal 1 (satu) pelayanan. Pelayanan Spesialis Penunjang Medik terdiri dari Pelayanan. Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari pelayanan asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan. Pelayanan Penunjang Klinik terdiri dari Perawatan intensif, Pelayanan Darah, Gizi, Farmasi, Sterilisasi Instrumen dan Rekam Medik.

Pelayanan Penunjang Non Klinik terdiri dari pelayanan Laundry/Linen, Jasa Boga / Dapur, Teknik dan Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang, Ambulance, Komunikasi, Kamar Jenazah, Pemadam Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan Penampungan Air Bersih. Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis dan tingkat pelayanan. Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 9 orang dokter umum dan 2 orang dokter gigi sebagai tenaga tetap.

Pada Pelayanan Medik Spesialis Dasar harus ada masing-masing minimal 2 orang dokter spesialis setiap pelayanan dengan 2 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap pada pelayanan yang berbeda. Pada setiap Pelayanan Spesialis Penunjang Medik masing-masing minimal 1 orang dokter spesialis setiap pelayanan dengan 2 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap pada pelayanan yang berbeda.

Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur rumah sakit umum tipe c adalah 2:3 dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan pelayanan di Rumah Sakit.  Tenaga penunjang berdasarkan kebutuhan Rumah Sakit. Sarana prasarana Rumah Sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri.  Peralatan yang dimiliki Rumah Sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri.

Peralatan radiologi harus memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jumlah tempat tidur minimal 100 (seratus) buah. Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. Struktur organisasi tersebut memuat paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum dan keuangan. Tata laksana sebagai syarat rumah sakit umum tipe c meliputi tatalaksana organisasi, standar pelayanan, standar operasional prosedur(SPO), Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMS) dan hospital by laws dan Medical Staff by laws.
Read More

Inilah Syarat Jadi Rumah Sakit Umum Tipe A

Syarat Rumah Sakit Umum Tipe A- Seperti yang diketahui bahwa rumah sakit di Indonesia terbagi dalam beberapa kategori rumah sakit. Setiap kategori Rumah Sakit harus mempunyai kemampuan pelayanan sekurang-kurangnya pelayanan medik umum, gawat darurat, pelayanan keperawatan, rawat jalan, rawat inap, operasi/bedah, pelayanan medik spesialis dasar, penunjang medik, farmasi, gizi, sterilisasi, rekam medik, pelayanan administrasi dan manajemen, penyuluhan kesehatan masyarakat, pemulasaran jenazah, laundry, dan ambulance,pemeliharaan sarana rumah sakit, serta pengolahan limbah.

Persyaratan mengenai kategori rumah sakit memang sudah diatur dengan jelas oleh peraturan menteri kesehatan No 340/MENKES/PER/III/2010.  Adapun untuk Rumah sakit dengan kategori Rumah Sakit Umum Tipe A harus memenuhi persayaratan khusus. Berikut ini merupakan Syarat Rumah Sakit Umum Tipe A yang terdapat pada pasal 6 :

Beberapa Syarat Rumah Sakit Umum Tipe A

1.  Rumah Sakit Umum Kelas A harus memiliki fasilitas dan kemampuan pelayanan medik minimal 4 Pelayanan Medik Spesialis Dasar, 5 Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, 12 Pelayanan Medik Spesialis Lain dan 13 Pelayanan Medik Sub Spesialis.
2. Kriteria, fasilitas dan kemampuan Rumah Sakit Umum Kelas A meliputi Pelayanan Medik Umum, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Medik Spesialis Dasar, Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, Pelayanan Medik Spesialis Lain, Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut, Pelayanan Medik Subspesialis, Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan, Pelayanan Penunjang Klinik, dan Pelayanan Penunjang Non Klinik.
3. Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Medik Dasar, Pelayanan Medik Gigi Mulut dan Pelayanan Kesehatan Ibu Anak /Keluarga Berencana.
4. Pelayanan Gawat Darurat harus dapat memberikan pelayanan gawat darurat 24 jam dan 7 hari seminggu dengan kemampuan melakukan pemeriksaan awal kasus-kasus gawat darurat, melakukan resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar.
5. Pelayanan Medik Spesialis Dasar terdiri dari Pelayanan Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah, Obstetri dan Ginekologi.
6. Pelayanan Spesialis Penunjang Medik terdiri dari Pelayanan Anestesiologi, Radiologi, Rehabilitasi Medik, Patologi Klinik dan Patologi Anatomi.
7. Pelayanan Medik Spesialis Lain sekurang-kurangnya terdiri dari Pelayanan Mata, Telinga Hidung Tenggorokan, Syaraf, Jantung dan Pembuluh Darah, Kulit dan Kelamin, Kedokteran Jiwa, Paru, Orthopedi, Urologi, Bedah Syaraf, Bedah Plastik dan Kedokteran Forensik.
8. pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut terdiri dari Pelayanan Bedah Mulut, Konservasi/Endodonsi, Periodonti, Orthodonti, Prosthodonti, Pedodonsi dan Penyakit Mulut.
9. Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari pelayanan asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan.
10. Pelayanan Medik Subspesialis terdiri dari Subspesialis Bedah, Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Obstetri dan Ginekologi, Mata, Telinga Hidung Tenggorokan, Syaraf, Jantung dan Pembuluh Darah, Kulit dan Kelamin, Jiwa, Paru, Orthopedi dan Gigi Mulut.
11. Penunjang Klinik terdiri dari Perawatan Intensif, Pelayanan Darah, Gizi, Farmasi, Sterilisasi Instrumen dan Rekam Medik.
12. Pelayanan Penunjang Non Klinik terdiri dari pelayanan Laundry/Linen, Jasa Boga/ Dapur, Teknik dan Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang, Ambulance, Komunikasi, Pemulasaraan Jenazah, Pemadam Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan Penampungan Air Bersih.
13.  Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis dan tingkat pelayanan.
14.  Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 18 orang dokter umum dan 4 orang dokter gigi sebagai tenaga tetap.
15. Pada Pelayanan Medik Spesialis Dasar harus ada masing-masing minimal 6 orang dokter spesialis dengan masing-masing 2 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap.
16. Pada Pelayanan Spesialis Penunjang Medik harus ada masing-masing minimal 3 (orang dokter spesialis dengan masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap.
17. Pada Pelayanan Medik Spesialis Lain harus ada masing-masing minimal 3 orang dokter spesialis dengan masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap.
18. Untuk Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut harus ada masing-masing minimal 1 rang dokter gigi spesialis sebagai tenaga tetap.
19. Pada Pelayanan Medik Subspesialis harus ada masing-masing minimal 2 orang dokter subspesialis dengan masing-masing 1 orang dokter subspesialis sebagai tenaga tetap.
20. Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah 1:1 dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan pelayanan di Rumah Sakit.
21. Tenaga penunjang berdasarkan kebutuhan Rumah Sakit.
22. Sarana prasarana Rumah Sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri.
23. Peralatan yang dimiliki Rumah Sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri.
24. Peralatan radiologi dan kedokteran nuklir harus memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
25. Jumlah tempat tidur minimal 400 buah.
26. Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana.
27. Struktur organisasi yang ada minimal terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum dan keuangan.
28. Tata laksana rumah sakit meliputi tatalaksana organisasi, standar pelayanan, standar operasional prosedur(SPO), Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS),hospital by laws dan Medical Staff by laws
.
Demikian beberapa syarat yang harus dipenuhi Rumah Sakit Umum Tipe A yang mungkin dapat membantu pembaca untuk lebih memahami mengenai syarat rumah sakit umum Tipe A.
Read More

Mau Tahu Data BPJS Kesehatan ? Cukup SMS Saja

SMS Data BPJS Kesehatan - Untuk dapat mengetahui data kepesertaan dan juga faskes (fasilitas kesehatan) tingkat pertama, peserta bpjs kesehatan bisa mengaksesnya melalui media SMS. Akses SMS ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang sudah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan baik itu peserta PBI (Penerima Bantuan Iur) maupun peserta mandiri dan peserta BPJS Kesehatan dari perusahaan.

Hal ini disampaikan oleh kepala grup komunikasi dan hubungan antar lembaga BPJS Kesehatan dimana untuk bisa memanfaatkan fasilitas SMS Data BPJS Kesehatan tersebut peserta BPJS cukup mengirimkan pesat singkat dengan format yang telah disediakan.

Untuk bisa melakukan pengecekan Data BPJS Kesehatan melalui SMS singkat itu maka format yang digunakan adalah dengan mengetikkan NOKA(spasi)NO KARTU BPJS. SMS tersebut dikirimkan ke nomer 08775500400.

Sampai saat ini  jumlah peserta BPJS Kesehatan pada pertengahan Mei 2015 mencapai kurang lebih 143 juta orang. Sedangkan untuk jumlah peserta PBI saat ini mencapai 86,4 juta orang. Data tersebut diperoleh melalui data peserta jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) yang merupakan data dari komensos dimana sekitar 60 juta peserta telah tervalidasi.
Read More

Seminar Audit Lingkungan 2015 : Audit Lingkungan Bagi Dunia Usaha dan Industri


Seminar Lingkungan hidup Yogyakarta 2015- Dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 52 Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, maka perlu menetapkan peraturan menteri lingkungan hidup no.3 tahun 2013 tentang audit lingkungan hidup.

Audit lingkungan hidup adalah evaluasi yang dilakukan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap persyaratan hokum dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan kegiatan beresiko tinggi adalah usaha dan atau kegiatan yang jika terjadi kecelakaan dan atau keadaan darurat dapat menimbulkan dampak yang sangat besar dan luas terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Kriteria penetapan usaha dan atau kegiatan beresiko tinggi yang diwajibkan melakukan audit lingkungan hidup secara berkala adalah usaha atau kegiatan jika terjadi kecelakaan dan atau keadaan darurat dapat menimbulkan dampak yang sangat besar dan luas terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup, sementara itu hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan secara berkala harus dapat dijadikan acuan untuk nmelakukan perbaikan pengelolaan lingkungan bagi penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan.
Bagi usaha dan atau kegaitan yang telah memiliki AMDAL dan dalam operasionalnya menghendaki untuk meningkatkanketaatan dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat melakukan audit lingkungan secara sukarela, hal ini sesungguhnya merupakan alat pengelolaan dan pemantauan yang bersifat internal.

Audit lingkungan yang bersifat sukarela sebagaimana dimaksud sangat berguna bagi pemrakarsa dalam rangka melancarkan hubungan perdagangan dengan luar negeri sebagaimana ketentuan daalam ISO 14000, terlebih dalam memasui ME tahun 2015, dimana saat ini sedang gencar dipromosikan penyusunannya oleh berbagai aosiasi industri dan bisnis.

Seminar Lingkungan hidup Yogyakarta 2015 : Audit Lingkungan Bagi Dunia Usaha dan Industri

Seminar Lingkungan hidup Yogyakarta 2015 dengan metode ceramah dialog dan Tanya jawab ini dimaksudkan member informasi masukan serta saran dan pendapat dari pihak-pihak terkait tentang bagaimana pelaksanaan audit lingkungan sesuai permen LH No.3 Th 2013. Sehingga masyarakat dunia industry dapat memahami audit lingkungan dan mampu bersaing dalam pasar global saat ini.

Tujuan dari Seminar Lingkungan hidup Yogyakarta 2015 ini adalah agar dapat memahami substansi peraturan menteri lingkungan hidup no 3 tahun 2013 tentang audit lingkungan Hidup. Memahami penyususnan standar operational prosedur (SPO), dokumnetasi,evaluasi dan pelaporan sesuai dengan ketentutan system manajemen mutu. Mengetahui proses audit lingkungan hidup yang diwajibkan bagi usaha dan atau kegiatan yang menunjukkan ketidaktaatan terhadap peraturan.

Seminar lingkungan hidup ini akan diselenggarakan di Grha Sarina Vidi Jl. Magelang KM.8 no.75 sleman Yogyakarta pada tanggal 20 Mei 2015. Kontak person Dedi 085228494888
Read More

Pelatihan Workshop Peningkatan kompetensi Elektromedis 2015

Pada era globalisasi ini tuntutan masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan akan semakin tinggi dan kritis. Sejalan dengan hal tersebut rumah sakit dituntut untuk meningkatkan semua aspek pelayanan salah satunya adalah pelayanan dari peralatan elektromedis.

Peralatan elektromedik harus selalu siap operasional, terjaga kinerjanya dan aman untuk digunakan. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dari peralatan kesehatan, sarana dan prasarana serta untuk pemenuhan standar fasilitas manajemen dan keselamatan dari akreditasi KARS/ JCI maka perlu diadakan update manajemen peralatan kesehatan.

Workshop Peningkatan kompetensi elektromedis dalam mendukung akreditasi rumah sakit

Tujuan dari diadakannya Workshop Peningkatan kompetensi elektromedis dalam mendukung akreditasi rumah sakit ini adalah sebagai sharing informasi dalam hal pemenuhan standar fasilitas manajemen dan keselamatan dan juga update pengetahuan tentang teknologi peralatan elektromedik dan sharaing implementasi teknis pemeliharaan dan perbaikan peralatan elektromedik.

Dalam seminar ini akan dibahas mengenai standar fasilitas manajemen dan keselamatan, persiapan peralatan medis, persiapan sarana dan prasarana rumah sakit, persiapan unit kerja rumah sakit, persiapan tim penanggulangan dan pecegahan infeksi dalam kaitannya pemenuhan standar fasilitas manajemen dan keselamatan. Juga terkait bangunan, tantangan tenaga elektromedik dalam menghadapi MEA 2015 dan Operasional pemeliharaan troubleshooting perbaikan ventilator, patient moniteor, defibrillator dan infuse syringe pump.

Seminar Workshop Peningkatan kompetensi elektromedis dalam mendukung akreditasi rumah sakit ini akan di selenggarakan di Inna Garuda Hotel Jl. Malioboro No.60 Yogyakarta pada tanggal 21-23 Mei 2015. Untuk kontak person dapat menghubungi Agus susilowibowo 081226627266;budi 087731143135;aidatul 085646256110.
Read More

Workshop Asessor Internal Rumah Sakit



Workshop Asessor internal rumah sakit - Dengan adanya perubahan standar akreditasi rumah sakit, maka berubah pula metodologi survey dari yang semula hanya berfokus kepada dokumentasi kini telah berubah menjadi berfokus kepada implementasi atau pelaksaan kegiatan dengan menggunakan metode telusur.

Pokja akreditasi rumah sakit harus mampu melakukan survey akreditasi secara internal di rumah sakitnya. Disisi lain para pemimpin rumah sakit harus tahu proses pelaksanaan survey akreditasi rumah sakit agar dapat melaksanakan standar pelayanan dengan baik dan benar.


Oleh sebab itu para pemimpin rumah sakit harus memahami standar pelayanan rumah sakit dengan sebaik-baiknya sesuai dengan standar akreditasi rumah sakit versi 2012. Perubahan paradigm tersebut merubah kompetensi dan fungsi pokja akreditasi rumah sakit yang semula hanya mampu dan berfungsi untujk menyiapkan dokumen akreditasi maka pada saat ini pokja akreditasi rumah sakit harus mampu bertindak sebagai asesor internal rumah sakit dalam mempersiapkan akreditasi.

Pelatihan dan Workshop Asessor internal rumah sakit

Dalam rangka membantu rumah sakit unrtuk meningkatkan kompetensi para pemimpin dan pokja akreditasi rumah sakit maka komisi ajkreditasi rumah sakit bekerja sama dengan PT. Rava untuk menyelenggarakan Workshop Asessor internal rumah sakit agar para pemimpin rumah sakit dan pokja akreditasi agar siap menjadi asesor internal rumah sakit.

pelatihan workshop akreditasiTujuan dari kegiatan workshop ini adalah meningkatkan kemampuan rumah sakit dalam mempersiapkan akreditasi rumah sakit Kesiapan tersebut dilihat dari pemahaman para pemimpin dan pokja akreditasi dalam mempersiapkan akreditasi rumah sakitnya dan juga pemahamam dalam melakukan self assessment dengan metodologi telusur. Dalam Workshop Asessor internal rumah sakit ini akan di isi dengan beragam tema acara yaitu peran asesor internal dalam persiapan akreditasi rumah sakit, teknik wawancara, telusur kualifikasi dan pendidikan staf, telusur managemen penggunaan obat, dokumen akreditasi dan telaah dokumen, teknik telusur MKI, PPK dan MDGs, teknik telusur data PMKP, teknik telusur pemeriksaan fasilitas MFK,teknik telusur pencegahan dan pengendalian infeksi PPI,teknik telusur pasien APK,AP,PP,PAB, dan telaah rekam medis.

Workshop Asessor internal rumah sakit ini akan diselenggarakan di hotel amaroossa grande bekasi Jl.jend. achmad yani no.88 bekasi barat pada tanggal 26-27 Mei 2015 dengan kontak person dr.luwiharsih M.sc 0811151142; dra.M.amatyah MKes 081584296763.
Read More

Aktivasi Kartu BPJS 2 Minggu

Salah satu upaya BPJS Kesehatan dalam menekan rasio klaim adalah dengan meningkatkan masa aktivasi kartu peserta BPJS kesehatan. Tingginya rasio klaim BPJS Kesehatan pada tahun 2014 lalu memunculkan upaya upaya baru agar klaim dapat ditekan. Hal ini di sampaikan oleh  Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris bahwa BPJS akan lebih berfokus pada menekan rasio klaim di tahun 2015 agar tidak tinggi seperti rasio klaim di tahun 2014 lalu dimana sampai dengan 103 persen.

Upaya yang dilakukan adalah Salah satunya dikeluarkan sebuah kebijakan baru pada Juni depan. Kepala BPJS juga menyampaikan bahwa masa aktivasi kartu BPJS Kesehatan dari tujuh akan ditingkatkan menjadi dua minggu.

Dimana masa aktivasi selama dua minggu tersebut hanya berlaku untuk peserta BPJS kelas I dan juga kelas II. Peraturan baru aktivasi kartu BPJS tersebut tidak berlaku untuk peserta BPJS kelas III dengan syarat  yang bersangkutan terbukti berasal dari kelompok tidak mampu.

Aktivasi Kartu BPJS diperpanjang dari 7 hari menjadi 2 Minggu. Artinya layanan BPJS baru bisa digunakan setelah 2 minggu terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
Selama ini memang yang menjadi konsep BPJS Kesehatan adalah gotong royong dimana yang sehat membantu yang sakit. Dengan adanya masa tenggang aktivasi kartu BPJS tersebut maka  diharapkan para pendaftar BPJS Kesehatan tidaklah orang orang yang sudah sakit dan sekarat. Cara lain yang dipakai untuk menurunkan rasio klaim adalah dengan menaikkan iuran peserta BPJS. Cara yang kedua ini memang banyak menuai pertanyaan seolah olah BPJS kesehatan menjadi asuransi yang komersial.

Walaupun demikian rencana kenaikan itu tetap ada karena BPJS Kesehatan ingin agar iuran yang ditetapkan sesuai dengan pengeluaran sehingga pendanaan BPJS Kesehatan tidak lagi dibantu Kementerian Keuangan.  Kepala BPJS juga  menegaskan bahwa kenaikan premi golongan mandiri tidak perlu meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Hanya premi untuk penerima bantuan iuran (PBI) yang memerlukan persetujuan DPR.
Read More

Workshop Pelatihan Critical Nurses Hipercci 2015


Siap atau tidak Indonesia akan segera menghadapi era persaingan bebas pada tahun 2015 dengan diberlakuknannya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) pada bulan desember 2015. Sebuah era dimana aliran barang, jasa dan investasi akan terbuka untuk segenap penduduk Negara Negara yang melingkupinya. Dari itu MEA atau disebut juga dengan ASEAN EconomicCommunity (AEC) menjadi sebuah agenda penting yang tidak hanya menuntut perhatian, tapi sekaligus kesadaran semua pihak untuk segera menyiapkan diri dari gempuran kebebasan berekonomi.

Ketika MEA berlaku arus tenaga kerja di lima sector jasa kan bebas masuk lintas Negara dan berlaku mutual recognition arrangement (MRA) atau standar kompetisi SDM atas standar di ASEAN diantaranya untuk profesi perawat dan dokter. Arus perdagangan jasa dan SDM tidak akan bisa diproteksi lagi ketika pasar semakin terbuka dengan adanya MEA. Karena itu dibutuhkan system sertifikasi atas standar keahlian dan kompetensi untuk menjadi jaminan daya saing SDM di dalam negeri.

Pengurus Pusat Himpunan Perawat Critical Care Indonesia atau HIPERCCI bertugas meningkatkan kompetensi dan daya saing perawat critical care sebagaimana tertuang dalam AD/ART pasal 4 berorientasi pada keilmuan dalam bidang keperawatan kemudian menyebarluaskan informasi atau ilmu pengetahuan kepada seluruh perawat di area critical care serta pada pasal 8 meningkatkan, mengembangkan pengetahuan dan profesionalisme seluruh perawat critical care Indonesia.

Berdasarkan visi dan misi organisasi hipercci selalu berusaha untuk meningkatkan keilmuan serta keterampilan anggota melalui kegiatan-kegiatan ilmiah verupa symposium, workshop serta berbagai macam pelatihan mulai dari level basic, intermediate sampai advance untuk mensertifikasi semua perawat-perawat yang bekerja di area critical care sehingga mampu bersaing di era bebas. Berkaitan dengan hal tersebut maka akan diadakan Time table the17 indonesian critical care nurses workshop pada tanggal 15 Mei 2015 bertempat di Hotel Inna Garuda Yogyakarta.

Time table the17 indonesian critical care nurses workshop yang diselenggarakan oleh Hipercci tersebut akan mengagendakan 4 jenis workshop dan symposium. Workshop tersebut terdiri dari airway management, fluid management, mechanical ventilation for adult dan mechanical ventilation for paediatric. Workshop tersebut sangat berguna bagi perawat yang bekerja di area critical care atau peawat emergency. Bagi peserta akan diberikan sertifikat dari Pengurus Pusat Persatuan Perawat Indonesia (PPPPNI). Untuk informasi pendaftaran dapat menghubungi Asep sukendar telp 085888664410/081291580858/08891548886.
Read More

Faskes Hadapi Kompetitor Asing


Investasi modal asing di Indonesia terus meningkat seiring mulai berjalannya Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA. Tidak ketinggalan industry kesehatan juga menjadi salah satu sasaran para pemodal asing. Bukan hanya permodalan saja akan tetapi dimungkinkan akan banyak tenaga medis asing yang bekerja di Indonesia demikian juga sebaliknya.

Mengutip pemberitaan pada jawapos.com pada tahun lalu, ada 1.200 dokter spesialis yang bekerja di luar negeri. Angka lebih tinggi tampak pada perawat. Yakni, 16.920 orang dan terus naik setiap tahun. Ketika MEA berlaku maka investor asing akan banyak yang masuk ke Indonesia. Yang wajib diwaspadai adalah mereka dimungkinkan akan membangun atau mengakuisisi rumah sakit di Indonesia. Bila hal ini terjadi maka akan muncul persaingan mutu dan layanan dengan institusi kesehatan lokal. Walau demikian dari sisi konsumen akan diuntungkan karena mereka akan memiliki lebih banyak pilihan rumah sakit. Pasien dapat memilih rumah sakait yang mempunyai layanan terbaik dan bisa menyembuhkan penyakitnya.

Munculnya fasilitas kesehatan (faskes) yang dimiliki investor asing juga menjadi tantangan besar hal tersebut karena terkait kompetisi mutu. Dicontohkan saja untuk wilayah Jawa timur di antara 367 rumah sakit yang lulus akreditasi baru 15 rumah sakit. BPJS kesehatan juga tidak menutup ruang kerja sama dengan rumah sakit asing. Dengan bekerja sama dengan rumah sakit asing tersebut maka akan menambah jumlah faskes seiring dengan pertumbuhan peserta. Syaratnya adalah rumah sakit asing tersebut harus lulus credentialing. Misalnya, izin operasional di Indonesia. Kemudian, klasifikasi rumah sakit, layanan, ketersediaan sumber daya manusia (SDM), dan alat kesehatan.

Salah satu yang paling diperhatikan adalah surat izin praktik dokter. Apalagi jika yang dipekerjakan adalah dokter asing. Kemudian, tim BPJS memberikan penilaian melalui scoring. Yakni, apakah rumah sakit tersebut memenuhi syarat atau tidak. ”Scoring harus tepat. Beda kelas, beda pembayaran. Klasifikasi A, B, C, atau D, tarifnya tidak sama.

MEA juga bisa menimbulkan ancaman kedaulatan kesehatan terkait dengan adanyan nvestasi asing. Dikaitkan dengan Perpres Nomor 39 Tahun 2014, kepemilikan modal asing pada rumah sakit dan jasa layanan medis lain diperbolehkan. Selain itu, ada tantangan pasien dan alat kesehatan asing yang masuk ke dalam negeri. Thailand dan Malaysia telah menerapkan wisata kesehatan dimana dengan Jasa diagnostik tersebut banyak pasien Indonesia ke luar negeri. Rumah sakit di Negara tersebut memang tertata, bersih, patient safety oriented. Oleh sebab itu pentingnya rumah sakit di Indonesia untuk terus meningkatkan mutu agar tidak kalah dengan kompetitor asing.
Read More

Sejarah Hari Pendidikan Nasional


 
Salah satu kegemarannya adalah membuat tulisan dan banyak yang berisi kritik pada penjajah belanda kala itu. Salah satunya adalah Als Ik Eens nederlander Was ( Seandainya Aku Seorang Belanda ) berikut cuplikannya :
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya.
Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! “Kalau aku seorang Belanda” Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun“.

Akibat menulis kritik yang tajam kepada Belanada maka Ki Hajar Dewantara kemudian diasingkan ke pulau Bangka dan kemudian beliau dipindahkan ke Belanda karena bantuan dari Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesumo. Sekembalinya ke Indonesia beliau lalu mendirikan National Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 yang merupakan awal dari konsep pendidikan nasional.

Pada tanggal 28 April 1958 Ki Hadjar Dewantoro akhirnya meninggal dan untuk mengenang jasanya maka tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional sejak tahun 1959. Itulah mengapa sampai saat ini setiap tahun tiap tanggal 2 Mei kita memperingati hari pendidikan Nasioanl sebagai penghargaan atas jasa-jasa Ki Hadjar Dewantar di bidang pendidikan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, oleh sebab itu mari kita memaknai Hari Pendidikan Nasional dengan sebaik-baiknya.Demikian Sejarah Hari Pendidikan Nasional.

Sejarah Hari Pendidikan Nasional – Setiap tahun pada tanggal 2 Mei kita pasti memperingati gari pendidikan Nasional. Nah apa yang menjadi dasar dipilihnya tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan Nasional ?

Sebenarnya tanggal 2 Mei merupakan hari lahirnya Ki Hadjar Dewantara. Perannya yang besar bagi pendidikan di tanah air diabadikan dengan mencanangkan hari lahirnya sebagai hari pendidikan Nasional yang kita peringati tiap tahunnya.  Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai sosok dibelakanfg berdirinya Perguruan Taman Siswa. Dari hadirnya lembaga pendidikan ini maka bisa memberikan kesempatan bagi para rakyat pribumi kala itu untuk dapat menikmati pendidikan seperti halnya para priyayi dan orang-orang Belanda.
Read More