Kerjasama BPJS dengan Bank



Untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap para peserta layanan BPJS maka Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan saat ini telah menjalin kerjasama dengan tiga bank pemerintah, yaitu Bank Mandiri, BNI, dan BRI. Sehingga kini untuk melakukan pendaftaran kepesertaan BPJS, masyarakat dapat melakukan pendaftaran pada 3 kantor cabang bank pemerintah tersebut.  Jadi BPJS mempermudah akses pendaftaran selain melalui kantor cabang BPJS Kesehatan dan online masyarakat juga dapat mendaftar pada Bank Mandiri, BNI, dan BRI baik secara individu maupun badan usahanya.

Kerjasama BPJS dengan Bank Mandiri, BNI, dan BRI tersebut untuk meminimalkan penumpukan pendaftaran di kantor cabang BPJS Kesehatan. Para peserta juga bisa melakukan pembayaran iuran bulanan BPJS Kesehatan dengan menggunakan Virtual Account secara manual melalui teller. Iuran kepesertaan BPJS Kesehatan juga bisa dibayarkan dengan sistem auto debet, ATM, internet banking, mobile banking, dan EDC. Dengan memanfaatkan layanan cash management yang dimiliki oleh pihat bank maka kantor cabang BPJS Kesehatan semakin mudah membayar klaim yang diajukan oleh fasilitas kesehatan tanpa perlu menunggu pengucuran dana dari kantor BPJS pusat.

Selain itu kerjasama tersebut juga akan memanfaatkan layanan cash pooling system yang bisa dipakai untuk pengumpulan dana secara terpusat dengan demikian maka dana bisa dioptimalkan untuk pembayaran klaim dan investasi. Sedangkan yang berhubungan dengan laporan pengelolaan iuran BPJS Kesehatan, juga bisa dilakukan melalui sarana perbankan, sehingga memiliki data yang jelas dan transparan.

Baik bank Mandiri, BRI, dan BNI diharapkan bisa sebagai perpanjangan tangan BPJS yang berfungsi untuk penyebaran informasi bagi masyarakat tentang kegunaan terdaftar dalam program JKN.

Askep Bronkhitis : Intervensi Keperawatan



Dalam askep bronkhitis atau juga bisa disebut sebagai asuhan keperawatan bronkhitis perlu dilakukan langkah langkah pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Bagaimana proses Intervensi keperawatan pada pasien bronkhitis dicapai dalam tahapan  melakukan askep bronkhitis.

1.Bersihan jalan nafas tidak efektif terkait dengan peningkatan produksi sekret. Tujuan dari intervensi askep bronkhitis ini adalah mempertahankan jalan nafas paten. Rencana tindakannya meliputi :
-Auskultasi bunyi nafas : untuk mengetahui beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat dimanifestasikan oleh bunyi nafas. Memantau frekuensi pernafasan : untuk menegakkan tachipnoe biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan saat proses infeksi akut.
-Membantu latihan nafas abdomen atau bibir : memiliki tujuan mengatasi dan mengontrol dispoe dan menurunkan jebakan udara.
-Observasi karakteristik batuk : khususnya pada lansia, penyakit akut atau kelemahan batuk dapat menetap tetapi tidak efektif,
-Meningkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari :tujuannya agar hidrasi sehingga menolong turunnya kekentalan sekret sehingga mudah keluar.
2.Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus. Tujuan dari intervensi ini adalah mnunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. Rencana tindakan intervensi askep bronkhitis meliputi :
-Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan.: Berguna untuk evaluasi derajat distress pernafasan dan kronisnya proses penyakit.
-Tinggikan kepala tempat tidur, dorong nafas dalam.: diharapkan oksigen dapat lancar pada posisi duduk tinggi.
-Auskultasi bunyi nafas. : Bunyi nafas makin pelan disebabkan turunnya aliran udara.
-Awasi tanda vital dan irama jantung : Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.
-Awasi GDA : PaCO¬2 biasanya naik, dan PaO2 turun sehingga hipoksia terjadi derajat lebih besar/kecil.
-Memberikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA : Dapat memperbaiki/mencegah buruknya hipoksia.
3.Pola nafas tidak efektif terkait dengan broncokontriksi, mukus. Tujuan dari intervensi askep bronkhitis ini adalah perbaikan dalam pola nafas. Rencana tindakan meliputi:
-Mengajarkan pasien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir : Diharapkan dengan teknik ini pasien bisa bernafas lebih efisien dan efektif.
-Memberi dorongan untuk menyelingi aktivitas dan periode istirahat : Memungkinkan pasien bisa beraktivitas tanpa distres berlebihan.
-Memberi dorongan pelatihan otot-otot pernafasan bila diperlukan : Hal ini untuk menguatkan dan mengkondisikan otot-otot pernafasan.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe, anoreksia, mual muntah. Tujuan dari intervensi ini adalah menunjukkan peningkatan berat badan. Rencana tindakannya meliputi :
- Kaji kebiasaan diet.: Pasien distress pernafasan akut, anoreksia karena dispnea, produksi sputum.
- Auskultasi bunyi usus : Penurunan bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster.
- Memberi perawatan oral : Bau merupakan pencegahan utama yang dapat membuat mual dan muntah.
- Timbang berat badan sesuai indikasi. : Berguna menentukan kebutuhan kalori dan evaluasi rencana nutrisi.
- Konsul ahli gizi  untuk menentukan kebutuhan kalori yang didasarkan pada kebutuhan individu sehingga dapat memberikan nutrisi maksimal.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit kronis. Tujuan dari intervensi askep bronkhitis ini adalah mengidentifikasi intervensi untuk mencegah resiko tinggi. Rencana tindakannya meliputi :
- Mengawasi suhu.: Demam dapat terjadi bila ada infeksi atau dehidrasi.
- Observasi warna, bau sputum. : Sekret berbau, kuning dan kehijauan mengindikasikan  adanya infeksi.
- Ajari pasien tentang pembuangan sputum. : Untuk mencegah penyebaran patogen.
- Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.: Nutrisi yang tidak tepat bisa berpengaruh apda kesehatan secara umum dan menurunkan tekanan darah terhadap infeksi.
- Memberi anti mikroba sesuai indikasi : Bisa diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur.
6. Intoleran aktifitas berhubungan dengan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi. Tujuan dari intervensi ini adalah menunjukkan perbaikan dengan aktivitas intoleran. Rencana tindakan dapat berupa memberi dukungan terhadap pasien untuk tetap berlatih teratur memakai exercise, berjalan perlahan atau latihan yang sesuai. Disinyalir Otot-otot yang mengalami kontaminasi memerlukan lebih banyak O2.
7.Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Tujuan dari intervensi askep bronkhitis ini adalah agar pasien mengalami penurunan rasa ketakutan dan ansietas. Rencana tindakannya dapat berupa:
-Kaji tingkat kecemasan (ringan, sedang, berat).  : Dengan mengetahui tingkat kecemasan pasien mempermudah melakukan tindakan selanjutnya.
-Memberi dorongan emosional. : Dukungan yang baik memberikan semangat tinggi untuk menerima keadaan penyakit yang dialami.
-Beri dorongan untuk dapat mengungkapkan ketakutan/masalah : Mengungkapkan masalah yang dirasakan akan mengurangi beban pikiran yang dirasakan.
-Jelaskan jenis prosedur dari pengobatan : Penjelasan yang tepat dan memahami penyakitnya diharapkan pasien mau bekerjasama dalam tindakan perawatan dan pengobatan.
- Beri dorongan spiritual : Diharapkan kesabaran yang tinggi untuk menjalani perawatan dan menyerahkan pada Tuhan atas kesembuhannya.
8. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan perawatan di rumah. Tujuan dari intervensi askep bronkhitis ini adalah mengetahui pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan. Rencana tindakannya dapat berupa:
- Menjelaskan proses penyakit individu  : hal tersebut dapat menimbulkan partisipasi pasien dalam rencana pengobatan.
- Instruksikan untuk latihan afas, batuk efektif dan latihan kondisi umum. : Nafas bibir dan nafas abdominal menolong meminimalkan kolaps jalan nafas dan meningkatkan toleransi aktivitas
- Melakukan diskusi faktor individu yang meningkatkan kondisi seperti udara, serbuk, asap tembakau.: Faktor lingkungan bisa menimbulkan iritasi bronchial dan peningkatan produksi sekret jalan nafas.

Askep Bronkhitis : Diagnosa Keperawatan


askep bronkhitis

Dalam askep bronkhitis atau juga bisa disebut sebagai asuhan keperawatan bronkhitis perlu dilakukan langkah langkah pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Bagaimana proses diagnosa keperawatan pada pasien bronkhitis dicapai dalam tahapan  melakukan askep bronkhitis ?. Berikut akan disajikan secara singkat bagaimana langkah langkah diagnosa keperawatan dalam askep bronkhitis.

Diagnosa keperawatan dapat dilakukan dengan cara tidak efektif saat membersihkan jalan nafas dimana hal tersebut sangat berkaitan dengan adanya peningkatan produksi sekret. Ditemukan adanya kerusakan pertukaran gas terkait dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus. Ditemukan pola nafas tidak efektif berkaitan dengan broncokontriksi, mukus. Ada indikasi perubahan kekurangan nutrisi dari kebutuhan hal ini sangat berkaitan dengan dispnoe, anoreksia, mual muntah.

Diagnosa keperawatan dalam askep bronkhitis juga berkaitan dengan adanya resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit kronis. Intoleran aktifitas berhubungan dengan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi. Diagnosa lainnya adalah ditemukan ansietas terkait dengan perubahan status kesehatan. Kurangnya  pengetahuan dan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan perawatan dirumah juga menjadi salah satu diagnosa keperawatan dalam askep bronkhitis.

Askep Bronkhitis : Data Dasar Pengkajian


askep bronkhitis

Dalam askep bronkhitis atau asuhan keperawatan bronkhitis perlu dilakukan langkah langkah pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Bagaimana proses pengkajian pasien bronkhitis dilakukan dalam rangka  melaksanakan askep bronkhitis ?. Berikut akan disajikan secara singkat bagaimana langkah langkah pengkajian dalam askep bronkhitis.

Data dasar pengkajian diperoleh dari Aktivitas dengan gejala keletihan atau tidak mampu melakukan aktivitas, tidak dapat tidur ditandai dengan gelisah dan insomnia. Pengkajian pada kelemahan umum ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, distensi vena leher, edema dependent, jantung lemah, tampak pucak. Pengkajian askep bronkhitis atau asuhan keperawatan bronkhitis pada integritas ego ditandai dengan meningkatnya factor resiko, perubahan pola hidup seperti ansietas, ketakutan dan peka terhadap rangsangan. 

Dari makanan atau cairan dapat dikaji tanda mual atau muntah, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, edema dependen, berkeringat dan palpitasi abdomen. Pengkajian lewat hygiene tampak pada penurunan kemampuan kebersihan dan bau badan. Askep bronkhitis atau asuhan keperawatan bronkhitis pernafaasan dapat dikaji lewat gejala batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama minimun 3 bulan berturut – turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun, episode batuk hilang timbul yang ditandai dengan pernafasan biasa cepat, bentuk barel chest, gerakan diafragma minimal, bunyi nafas ronchi, perkusi hyperresonan pada area paru dan warna pucat dengan cyanosis bibir dan dasar kuku, abu – abu keseluruhan. 

Pengkajian keamanan dapat dilihat lewat gejala riwayat reaksi alergi terhadap zat/faktor lingkungan. Penurunan libido merupakan dasar pengkajian seksualitas. Pengkajian pada askep bronkhitis atau asuhan keperawatan bronkhitis melalui interaksi social dapat terlihat pada hubungan ketergantungan dan kegagalan dukungan pada orang terdekat. Pengkajian pada penyakit lama dikaji melalui tanda adanya ketidakmampuan dalam mempertahankan suara karena distress pernafasan.

Pemeriksaan askep bronchitis

Pemeriksaan pada askep bronchitis lewat pemeriksaan diagnostic melalui :
-Sinar x dada : Untuk menegakkan diagnosa adanya hiperinflasi paru – paru, mendatarnya diafragma, peningkatan area udara retrosternal, hasil normal selama periode remisi.
-Tes fungsi paru : agar dapat ditentukan dari penyebab dispnoe, mengetahui obstruksi dan juga bisa memperkirakan derajat disfungsi.
-Analisa gas darah : agar mamapu menentukan kandungan gas yang ada di darah

Askep Asuhan Keperawatan : Definisi dan Tujuan

askep

Apa itu askep atau asuhan keperawatan ?  Dalam artikel kali ini akan dibahas sedikit mengenai pengertian tentang askep. Askep atau Asuhan Keperawatan adalah suatu proses atau tahap tahap kegiatan dalam praktik  keperawatan yang diberikan langsung kepada pasien dalam berbagai tatanan pelayanan  kesehatan. Askep atau asuhan keperawatan ini dalam pelaksanaannya didasarkan pada kaidah-kaidah keperawatan sebagai suatu profesi yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan,bersifat humanistic,dan berdasarkan pada kebutuhan objektif pasien untuk mengatasi masalah yang dihadapi pasien.

Tahapan dalam keperawatan sendiri merupakan metode askep atau asuhan keperawatan yang ilmiah,sistematis,dinamis,dan terus- menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien. Askep atau asuhan keperawatan ini di mulai dengan adanya tahapan pengkajian (pengumpulan data,analisis data,dan penentuan masalah) diagnosis keperawatan, pelaksanaan, dan penilaian tindakan keperawatan. Asuhan keperawatan atau askep tersebut dapat dilakukan atau diberi kepada pasien dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien. Kebutuhan pasien tersebut didasarkan pada 5 kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan fisiologis meliputi oksigen,cairan,nutrisi, kebutuhan rasa aman dan perlindungan,kebutuhan rasa cinta dan saling memiliki,kebutuhan akan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri.

Jadi bisa ditarik kesimpulan jika askep atau asuhan keperawatan juga adalah seluruh tahapan proses keperawatan kepada pasien secara berkesinambungan dengan kiat-kiat keperawatan dimana tahapan proses tersebut mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi dalam usaha memperbaiki derajat kesehatan yang optimal.

Tujuan Askep atau asuhan keperawatan

Adapun tujuan dalam pemberian asuhan keperawatan antara lain
- Membantu individu agar bisa mandiri
- Mengajak individu agar bisa berpartisipasi khususnya dalam bidang kesehatan.
- Membantu individu mengembangkan potensi untuk memelihara kesehatan secara optimal.
- Membantu Individu agar tidak tergantung pada orang lain dalam memelihara kesehatannya.
- Membantu individu memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

Askep Stroke Iskemik


Askep Stroke Iskemik

Askep stroke iskemik merupakan prosedur yang perlu dilakukan dalam melakukan perawatan penderita stroke iskemik. Askep atau asuhan keperawatan ini begitu penting karena dengan mengetahui askep stroke iskemik maka diharapkan perawat atau keluarga dapat menjalankan perawatan dengan benar. Dengan menjalankan askep ini maka langkah langkah perawatan yang diberikan dapat efektif dalam rangka langkah membantu para pasien stroke iskemik.

Sebelum melangkah lebih jauh mengenai bagaimana askep stroke iskemik ini dilakukan maka ada baiknya mengetahui apa itu stroke iskemik. Stroke dapat menimpa siapa saja secara tiba-tiba dan terbanyak disebabkan pola hidup yang dijalaninya. Faktor resiko terbesar terserang stroke adalah pada penderita Hipertensi, orang orang yang kerap terpapar asap rokok, penderita penyakit diabetes, melakukan terapi hormon postmenopouse, diet ketat, aktivitas fisik, Obesitas dan distribusi lemak dalam tubuh. 

Stroke sendiri merupakan kondisi dimana ada gangguan pada suplai darah ke otak. Dengan kurangnya suplai darah ke otak tersebut maka jaringan sel-sel saraf di otak akan rusak dan mati. Akibatnya adalah jaringan sel saraf otak yang mengendalikan fungsi tubuh tidak berfungsi lagi. Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya maka stroke dalam dunia medis terbagi menjadi stroke iskemik dan stroke hemorragik. Stroke hemorragik terjadi ketika pembuluh darah pecah yang mengakibatkan aliran darah normal terhambat dan darah masuk ke bagian otak dan merusaknya. Sedangkan pada stroke iskemik adalah keadaan dimana ada penyumbatan pada pembuluh darah ke otak. Penyumbatan pembuluh darah ke otak tersebut tersebut mengakibatkan sel otak tidak mendapat cukup oksigen dan asupan darah sehingga jaringan otak tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Dalam melaksanakan askep stroke iskemik  disesuaikan dengan masalah yang dihadapi penderita stroke. Secara general tindakan yang diberikan pada pasien stroke iskemik adalah mengatur posisi klien pada posisi semi fowler, memberikan supplai O2,  mengukur tanda-tanda vital seperti evaluasi pupil dan mencatat ukuran, bentuk dan reaksi terhadap cahaya,  meninggikan posisi tangan dan kepala, membantu penderitak untuk melakukan rentang gerak ekstremitas aktif, memantau keluaran urine,  memberikan kondisi lingkungan yang tenang,  memberi obat sesuai indikasi seperti anti hipertensi (Captopril), anti trombosit.(asam acetil salicilat) dan infuse (RL dan Nacl 0,9 %), membantu dalam pemenuhan makan minum, BAB/BAK, mandi.

Penyakit Hemofilia dan Gejalanya


penyakit hemofilia

Penyakit Hemofilia (Hemophilia) merupakan kelainan genetik pada darah dikarenakan adanya kekurangan faktor pembekuan darah. Dengan kurangnya faktor pembekuan darah tersebut maka penderita Hemofilia memerlukan waktu lama untuk proses pembekuan darah ketika dirinya mengalami pendarahan.  Penyakit ini digolongkan menjadi Hemofilia A dan B dimana keduanya digolongkan berdasarkan kurangnya jenis faktor  pembekuan darahnya. Pada penderita penyakit Hemofilia A ditengarai adanya kelainan pada gen sehingga kurangnya faktor pembekuan VIII (FVII). Sedangkan pada hemofilia B dikarenakan kurangnya faktor pembekuan IX (FIX). Kedua jenis Hemofilia baik A dan B memiliki tampilan klinis yang hampir sama sehingga tidak bisa dibedakan.

Sebagai penyakit kelainan ginetik maka penyakit hemofilia dapat dikatakan sebagai penyakit keturunan. Sehingga ketika seorang anak yang dilahirkan dari orang tua penderita penyakit hemophilia maka anak tersebut dipastikan akan juga menderita penyakit yang sama. Sulitnya pembekuan darah ini sangat rentan terhadap para penderita anak-anak. Benturan kecil saja yang mengakibatkan memar bisa menjadi masalah kesehatan dan seringkali ketika si anak mulai belajar bergerak atau berjalan. Dan yang cukup berbahaya pada penderita penyakit ini apabila sampai terjadi adanya pendarahan. Bagi orang normal saat terjadi pendaran maka pendarahan tersebut terhenti ketika ada proses pembekuan darah. Hal ini tidak demikian pada penderita hemophilia ini dimana proses pembekuan darah tersebut sangat lambat sehingga pendarahan berlangsung lebih lama.

Ciri-ciri hemofilia sangat beragam dimana ditentukan oleh banyak sedikitnya kekurangan dalam membentuk gumpalan protein yang disebut faktor pembekuan. Hemarthrosis (perdarahan hebat dalam sendi) adalah ciri dari hemophilia. Bagian organ yang rentan terkena penyakit ini adalah Lutut dan pergelangan kaki. Perdarahan yang terjadi mengakibatkan adanya penggelembungan dalam ruang sendi diiringi rasa nyeri yang berkelanjutan. Hal tersebut akan memicu terjadinya kerusakan sendi. Perdarahan ke dalam otot dapat terjadi ditandai dengan pembentukan hematoma (compartment syndrome). Pendarahan dari mulut atau mimisan terjadi tanpa ada sebabnya. Perdarahan dalam saluran pencernaan dapat menimbulkan darah dalam tinja. Peningkatan perdarahan pasca operasi atau trauma adalah juga ciri dari penyakit hemophilia.

Tanda dan gejala penyakit hemofilia darurat dapat meliputi rasa nyeri yang datang dengan tiba-tiba, pembengkakan, dan kehangatan dari sendi-sendi besar, seperti lutut, siku, pinggul, bahu, dan otot-otot lengan dan kaki. Gejala juga menyertai sakit kepala yang menyakitkan, muntah berkali-kali, kelelahan fisik, rasa sakit pada daerah leher, pandangan kabur. Gejala lain yang cukup sering terjadi diantaranya adalah  mudah memar, perdarahan intramuskular, dan hemartrosis. Bila perdarahan penyakit hemofilia terjadi di organ yang vital seperti sistem saraf,sistem pernafasan, dan sistem pencernaan hal tersebut perlu diwaspadai karena mengancam jiwa.