Workshop 2016 : Analisis Biaya Satuan Faskes Tingkat Pertama dan Tingkat Lanjutan di Era JKN

Workshop 2016 Analisis Biaya Satuan - Pada era jaminan kesehatan nasional (JKN) saat ini, dimana tarif layanan bagi pengguna BPJS Kesehatan telah ditetapkan secara fixed, maka fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas ataupun klinik pratama dan fasilitas kesehatan tingkat kanjutan (FKTL) seperti rumah sakit selain dihadapkan pada tuntutan mutu dan keselamatan pasien pada saat yang sama harus mampu menjamin tercapainya kinerja ; termasuk di dalamnya efisiensi biaya dalam penerapan system pembiayaan berbasis asuransi.

Workshop 2016 : Analisis Biaya Satuan Faskes Tingkat Pertama dan Tingkat Lanjutan di Era JKN

Untuk menjamin likuiditas dan kelangsungan pelayanan kesehatan, manajemen FKTP dan FKTL dalam era system pembiayaan berbasis asuransi harus mampu melakukan perhitungan dan analisis biaya yang akurat dengan dukungan system akuntansi biaya yang optimal, sehingga dapat diperoleh informasi biaya sebagai alat perencanaan,pengendalian dan pengambil keputusan ekonomi.

Clinical pathway dan system akuntansi biaya merupakan dua hal yang utama dalam implementasi JKN, tetapi masih banyak menajemen faskes terutama RS yang kesulitan dalam implementasinya dikarenakan pemahaman konsep biaya yang salah dan belum terbangunnya budaya akuntansi biaya pelayanan medis yang baik, disamping kurangnya kemampuan sumber daya manusia dalam teknis perhitungan.

Workshop sehari ini dikemas dan disampaikan dengan cara yang mudah dipahami, meskipun latar belakng peserta bukan dari profesi akuntansi dan keuangan. 

Sangat disarankan agar peserta dapat membawa data-data pelayanan kesehatan minimal 3 bulan dalam tahun 2015 agar dapat memudahkan narasumber dalam membimbing peserta melakukan praktek atau latihan menghitung dan menganalisis baiya satuan.

Workshop sehari dengan tema perhitungan dan analisis biaya satuan (unit cost) untuk faskes tingkat pertama dan tingkat lanjutan di era JKN ini akan diselenggarakan pada tanggal 27 Februari 2016. 

Pelatihan terbaru 2016 di Surabaya ini akan dilangsungkan di Luminoir hotel Jl. Jemursari No.206-208 Surabaya Tel(031)8485000.

Pembicara dalam seminar ini adalah Drs.Widartoyo, Ak.MM,M.Si,CPA,MA merupakan akuntan publik tersertifikasi, Divisi Akuntansi dan Keuangan PERSI Pusat, Pengurus ARSADA Pusat, Dewan Pengawas di beberapa RSUD, partner Akuntan publik KAP Drs.Thomas,Blasius,Widartoyo&rekan dan sekretaris Ikatan Akuntan Indonesia Jatim.

Untuk informasi lebih lanjut tentang  Workshop perhitungan dan analisis biaya satuan (unit cost) untuk faskes tingkat pertama dan tingkat lanjutan di era JKN, dapat menghubungi 087823738770 Bagir atau 085755169903 Alfan.
Read More

BimTek 2016 Analisis Laporan Keuangan Rumah Sakit


Pengelolaan rumah sakit dengan tingkat kompleksitas yang tinggi berakibat pada resiko yang tinggi pula. 
Oleh karena itu, sebagai perwujudan praktik bisnis yang sehat manajemen rumah sakit memerlukan data dan informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan baik keputusan yang bersifat operasional yang dituangkan dalam annual plan/rencana bisnis dan anggaran maupun keputusan strategis.

Pelatihan terbaru 2016 mengenai Analisis laporan keuangan rumah sakit untuk pengambilan keputusan operasional dan strategis

Laporan keuangan rumah sakit yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan merupakan informasi penting yang berguna untuk mengetahui sekaligus membuat keputusan yang mendukung tercapainya kinerja rumah sakit yang lebih baik, misalnya peningkatan produktivitas dan efisiensi.

Sayangnya selama ini laporan keuangan yang telah disusun dengan biaya dan tenaga mahal belum optimal digunakan, antara lain disebabkan pemahaman manajemen rumah sakit yang kurang memadai terhadap informasi berupa laporan keuangan dan kebiasaan dalam pengambilan keputusan berdasarkan perkiraan yang berakibat resiko tinggi.

Untuk menjawab hal tersebut Dynamic consultan group akan meyelenggarakan bimbingan teknis Analisis laporan keuangan rumah sakit untuk pengambilan keputusan operasional dan strategis. 

Tujuan dari bimbingan tekbis ini adalah terwujudnya praktek bisnis yang sehat dengan memanfaatkan informasi untuk pengambilan keputusan sehingga menajemen rumah sakit dapat membuat kepurusan operasional dan strategis yang akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Bimbingan tekniis ini akan dilangsungkan selama 3 hari mulai tanggal 24-26 Januari . 

Pelatihan terbaru 2016 mengenai Analisis laporan keuangan rumah sakit untuk pengambilan keputusan operasional dan strategis akan digelar di Quest Hotel  Jl. Plampitan No.37-39 Semarang .

Pembicara dalam seminar ini adalah Drs.Widartoyo, Ak.MM,M.Si,CPA,MA merupakan akuntan publik tersertifikasi, Divisi Akuntansi dan Keuangan PERSI Pusat, Pengurus ARSADA Pusat, Dewan Pengawas di beberapa RSUD, APrtner Akuntan publik KAP Drs.Thomas,Blasius,Widartoyo&rekan dan sekretaris Ikatan Akuntan iIndonesia Jatim.

Untuk informasi lebih lanjut dapat mnghubungi 081330230642 Anandito atau 087823738770 Bagir.
Read More

Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan 2016

Usulan mengenai adanya kenaikan iuran bpjs kesehatan 2016 telah digulirkan. Usulan kenaikan iuran BPJS Kesehatan untuk tahun 2016 tersebut telah disampaikan oleh Kepala Departemen Komunikasi dan Humas BPJS Kesehatan. Kenaikan ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan antara biaya dan manfaat. Sampai saat ini memang dari data bahwa jumlah pemasukan yang diterima oleh BPJS Kesehatan dari iur peserta tidak cukup untuk membayar layanan kesehatan.

Walupun kenaikan iuran BPJS ini masih dalam tahap pembahasan, adapun kenaikan yang diusulkan tersebut terdiri dari iuran untuk peserta PBI dan Peserta mandiri. Untuk peserta PBI iur peserta naik sekitar Rp 3.775 dari yang semula Rp 19.225 naik menjadi Rp 23.000. Sampai saat ini jumlah peserta PBI mencapai 87 juta jiwa.

Sedangkan kenaikan iuran bpjs kesehatan 2016 bagi peserta mandiri adalah adalah sebagai berikut :
1. Untuk kelas 3 diusulkan naik dari Rp 25.500/ bulan menjadi Rp 30.000/bulan.
2. Untuk kelas 2 diusulkan naik dari Rp 42.500/ bulan menjadi Rp 50.000/bulan.
3. Untuk kelas 1 diusulkan naik dari Rp 59.500/bulan menjadi Rp 80.000/bulan.
 
Kenaikan iuran BPJS tertinggi memang untuk penerima manfaat kelas 1 dimana kenaikan iuran BPJS Kesehatan tersebut dinilai masih dalam takaran wajar dan diharapkan tidak membebani peserta. Apabila peserta merasa kenaikan ini memberatkan dan tidak bisa membayar iuran maka yang bersangkutan dapat  mengusulkan dirinya dimasukkan pada kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI) dimana biaya iurnya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.

Iuran yang diterima oleh BPJS Kesehatan saat ini tidak bisa menutup biaya layanan kesehatan sehingga diharapkan ada peningkatan iuran untuk peserta PBI. Alternatif lainnya untuk menutup deficit selain kenaikan iuran bpjs kesehatan 2016 adalah dengan memberlakukan aktivasi kartu 14 hari sehingga banyak peserta sehat yang terjaring masuk. Selain itu langkah lainnya adalah menekan rujukan dan meningkatkan pengawasan pada sistem berjenjang sehingga potensi fraud (kecurangan) yang terjadi dapat diminalkan.

Kepala Bidang Pembiayaan Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (PPJK), Dr. Donald Pardede, MPPM, menyampaikan bahwa meskipun jumlah kenaikan iuran bpjs kesehatan 2016 sudah disepakati antar-kementerian. untuk non-PBI besaran iurannya belum ditetapkan. Tinggal bagaimana dimasukkan dalam revisi perpres karena semua sudah dialokasikan dalam anggaran Kementerian Kesehatan.
Read More

Contoh Promosi Kesehatan Rumah Sakit

Contoh promosi kesehatan yang dapat dilakukan diluar rumah sakit cukup banyak seperti promosi di tempat parkir, di taman, pagar pembatas rumah sakit, kios dikawasan rumah sakit dan tempat ibadah.

Contoh promosi kesehatan ditempat parkir rumah sakit : Parkir rumah sakit dapat berupa lapangan parkir atau gedung/bangunan parkir (termasuk basement rumah sakit). Semua kategori klien rumah sakit dapat dijumpai di tempat parkir, sehingga di tempat parkir sebaiknya dilakukan PKRS yang bersifat umum. Contohnya tentang pentingnya melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Seruan Presiden tentang Kesehatan, himbauan untuk menggunakan, obat generik berlogo, bahaya merokok, bahaya mengonsumsi minuman keras, bahaya menyalahgunakan napza, dan lain-lain.

Jika tempat parkir rumah sakit berupa lapangan, maka pesan-pesan tersebut dapat ditampilkan dalam bentuk baliho/billboard atau balon udara di sudut lapangan dan neon box diatap bangunan gardu parkir. Pengaturan dalam pemasangan media komunikasi ini harus dilakukan dengan konsultasi kepada ahlinya, sehingga mudah ditangkap oleh mereka yang berada di lapangan parkir, tanpa merusak keindahan lapangan tersebut.

Jika tempat parkir berupa bangunan (termasuk basement), pesan-pesan tersebut sebaiknya disajikan dalam bentuk neon box yang dipasang di beberapa sudut ruang parkir. Dalam hal ini pun konsultasi perlu dilakukan kepada ahlinya agar pesan-pesan mudah ditangkap dan memperindah ruang parkir.

Contoh promosi kesehatan di taman Rumah Sakit :Rumah sakit pada umumnya memiliki taman, baik di halaman depan, di sekeliling, atau pun di belakang gedung rumah sakit. Taman-taman di halaman rumah sakit memang diperlukan guna memperindah pemandangan di sekitar rumah sakit. Namun demikian taman-taman
rumah sakit ini sebenarnya dapat pula digunakan sebagai sarana memperkenalkan berbagai jenis tanaman yang berkhasiat obat. Jika demikian, maka taman-taman tersebut dapat dikatakan sebagai Taman-taman Obat Keluarga (TOGA).

Banyak jenis tanaman berkhasiat obat yang dapat ditanam di TOGA rumah sakit, yang selain memiliki daun yang indah, juga bunga dan bahkan buah yang menarik. Ahli pertamanan pasti dapat mengatur komposisi yang sesuai agar TOGA tersebut indah dan menarik, tetapi sekaligus juga informatif (misalnya dengan diberi label kecil di dekat tiap jenis tanaman).

Taman tidak hanya dapat digunakan untuk meng-informasikan jenis-jenis tanaman berkhasiat obat. Di taman rumah sakit juga dapat sekaligus ditunjukkan jenis-jenis tanaman dengan kandungan gizinya, seperti wortel, kacang-kacangan, pohon buah, ubi, jagung, kedelai dan lain-lain. Bahkan di taman rumah sakit itu pun dapat ditampilkan berbagai hewan sumber protein hewani (kalau tidak mau repot, dapat diwujudkan dalam bentuk patung-patung), seperti ikan, unggas, kelinci, dan lain-lain. Kolam beserta ikan-ikan sungguhan juga dapat dibuat guna menambah keindahan taman.
Contoh promosi kesehatan di dinding luar Rumah Sakit : Pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada Hari Kesehatan Nasional, Hari AIDS, Hari Tanpa Tembakau Sedunia, dan lain-lain, di dinding luar rumah sakit juga dapat ditampilkan pesan-pesan promosi kesehatan. Namun demikian perlu dicermati agar penampilan pesan ini tidak merusak keindahan gedung rumah sakit.

Oleh karena itu disarankan untuk sebaiknya memasang hanya 1 - 2 spanduk raksasa (giant banner) di dinding luar rumah sakit. Spanduk raksasa ini harus terbuat dari bahan yang tidak mudah sobek dan dipasang sedemikian rupa sehingga tidak diterbangkan angin. Jika rentang waktu acara sudah selesai, spanduk raksasa tersebut harus segera diturunkan, agar tidak sampai rusak dan mengganggu keindahan gedung rumah sakit.

Contoh promosi kesehatan dip agar pembatas kawasan rumah sakit : Seiring dengan pemasangan spanduk raksasa di dinding luar rumah sakit, di pagar pembatas sekeliling kawasan rumah sakit, khususnya yang berbatasan dengan jalan, dapat dipasang spanduk-spanduk biasa (normal). Pemasangan spanduk di pagar ini pun harus diperhitungkan dengan cermat, sehingga tidak merusak keindahan pagar.

Selain itu, sebagaimana halnya spanduk raksasa di dinding luar rumah sakit, spanduk-spanduk di pagar ini pun juga harus selalu dicek jangan sampai sobek-sobek atau lepas tertiup angin. Juga, setelah rentang waktu acara selesai, spanduk-spanduk di pagar harus segera diangkat agar tidak sempat rusak dan menganggu keindahan pagar serta penampilan rumah sakit.

Contoh promosi kesehatan di kantin/kios di kawasan rumah sakit :Tidak jarang di kawasan rumah sakit juga terdapat kantin, warung, toko atau kios yang menyediakan berbagai kebutuhan pengunjung rumah sakit. Sarana-sarana ini sebaiknya juga dimanfaatkan untuk PKRS.

Alangkah baiknya jika pesan-pesan yang ditampilkan di sarana-sarana tersebut disesuaikan dengan fungsi sarana. Misalnya, di kantin, sebaiknya ditampilkan pesan-pesan yang berkaitan dengan konsumsi gizi seimbang, di kios bacaan ditampilkan pesan tentang bagaimana membaca secara sehat (agar tidak merusak mata), dan lain sebagainya.
Bentuk media komunikasi yang cocok untuk sarana sarana ini adalah poster atau neon box, dan leaflet, brosur atau selebaran yang dapat diambil secara gratis. Untuk ruangan yang lebih besar seperti kantin atau toko buku, tentu dapat pula ditayangkan VCD/DVD atau dibuat-pameran kecil di sudut ruangan.

Contoh promosi kesehatan di tempat ibadah : Tempat ibadah yang tersedia di rumah sakit biasanya berupa tempat ibadah untuk kepentingan individu atau kelompok kecil, seperti musholla. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa di kawasan rumah sakit juga berdiri tempat ibadah yang lebih besar seperti masjid, gereja, pura, dan lain-lain.

Di tempat ibadah kecil tentu tidak dilakukan khotbah atau ceramah. Oleh sebab itu, pesan-pesan kesehatan dapat disampaikan dalam bentuk pemasangan poster atau penyediaan leaflet, brosur atau selebaran yang dapat diambil secara gratis. Adapun pesan-pesan yang disampaikan sebaiknya berupa pesan-pesan untuk kesehatan jiwa (yang dikaitkan dengan perintah-perintah agama) dan pentingnya menjaga kebersihan/kesehatan Iingkungan.

Di tempat ibadah besar seperti masjid dan gereja, selain dilakukan pemasangan poster dan penyediaan leaflet, brosur atau selebaran yang dapat diambil secara gratis, juga dapat diselipkan pesan-pesan kesehatan dalam khotbah. Untuk itu sudah barang tentu harus dilakukan terlebih dulu pendekatan kepada pemberi khotbah sebelum khotbah dilaksanakan.

Demikian contoh promosi kesehatan yang dapat dilakukan dilingkungan luar rumah sakit.
Read More

Pemasaran Sosial dalam Promosi Kesehatan

Pemasaran sosial dalam promosi kesehatan - Sebagai mana disebutkan da lam keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1193/Menkes/SK/X/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1114/Menkes/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah, strategi dasar utama Promosi Kesehatan adalah:
(1) Pemberdayaan, yang didukung oleh
(2) Bina Suasana
(3) Advokasi serta dijiwai semangat
(4) Kemitraan

1. Pemberdayaan
Pember dayaan merupakan ujung tombak dari upaya promosi kesehatan di rumah sakit. Hakikatnya adalah upaya membantu atau memfasilitasi pasien/klien, sehingga mempunyai pengetahuan, kemauan, dan kemampuan untuk mencegah dan atau mengatasi masalah kesehatan yang dihadapinya. Sehingga pemberdayaan hanya bisa dilakukan terhadap pasien/klien. Dalam pelaksanaannya, upaya ini umumnya berbentuk pelayanan konseling terhadap:

a. Bagi klien rawat jalan da pat dilakukan konseling, baik untuk me reka yang men derita suatu penyakit (misalnya konseling penyakit dalam) mau pun untuk mereka yang sehat (misalnya konseling gizi, konseling KB). Bagi klien yang sehat bisa pula dibuka kelompok-kelompok diskusi, kelompok-kelompok senam, kelompok-kelompok paduan suara, dan lain-lain.
b. Bagi pasien rawat inap bisa dilakukan beberapa kegiatan, contoh promosi kesehatan:
• konseling di tempat tidur (disebut juga bedside health promotion)
• konseling kelompok (untuk penderita yang bisa meninggalkan tempat tidur)
• biblioterapi (menyediakan atau membacakan bahan-bahan bacaan bagi pasien).
Dengan pemberdayaan diharapkan pasien berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi mau, dan dari mau menjadi mampu untuk melaksanakan perilaku-perilaku yang dikehendaki guna mengatasi masalah kesehatannya.

Tantangan pertama Pemasaran Sosial dalam Promosi Kesehatan dalam pemberdayaan adalah pada saat awal, yaitu pada saat meyakinkan seseorang bahwa suatu masalah kesehatan (yang sudah dihadapi atau yang potensial) adalah masalah bagi yang bersangkutan. Sebelum orang tersebut yakin bahwa masalah kesehatan itu memang benar-benar masalah bagi dirinya, maka ia tidak akan peduli dengan upaya apa pun untuk menolongnya.

Tantangan berikutnya datang pada saat proses sudah sampai kepada mengubah pasien dari mau menjadi mampu. Ada orang-orang yang walaupun sudah mau tetapi tidak mampu melakukan karena terkendala oleh sumber daya (umumnya orang-orang miskin). Tetapi ada juga orang-orang yang sudah mau tetapi tidak mampu melaksanakan karena malas. Orang yang terkendala oleh sumber daya tentu harus difasilitasi dengan diberi bantuan sumber daya yang dibutuhkan. Sedangkan orang yang malas bisa dicoba rangsang dengan “hadiah” (reward) atau harus “dipaksa” menggunakan peraturan dan sanksi (punishment).

Beberapa prinsip Pemasaran Sosial dalam Promosi Kesehatan konseling yang perlu diperhatikan dan dipraktikkan oleh petugas rumah sakit selama pelaksanaan konseling adalah contoh promosi kesehatan:
a. Memberikan kabar gembira dan kegairahan hidup.
Pada saat memulai konseling, sebaiknya petugas rumah sakit sebagai konselor tidak langsung mengungkap masalah, kelemahan, atau kekeliruan pasien. Konseling harus diawali dengan situasi yang menggembirakan, karena situasi yang demikianlah yang akan membuat pasien menjadi tertarik untuk terlibat dalam perbincangan. Pada saat perbicangan telah menjadi hangat, maka pancinglah pasien untuk mengungkapkan sendiri masalah, kelemahan atau kekeliruannya.
b.Menghargai pasien tanpa syarat.
Menghargai pasien adalah syarat utama untuk terjadinya hubungan konseling yang gembira dan terbuka. Cara menghargai ini dilakukan dengan contoh promosi kesehatan memberikan ucapan-ucapan dan bahasa tubuh yang menghargai, tidak mencemooh atau meremehkan.
c. Melihat pasien sebagai subyek dan sesama hamba Tuhan.
Pasien adalah juga manusia, sesama hamba Tuhan sebagaimana sang konselor. Oleh karena itu, konselor tidak boleh memandang dan memperlakukan pasien secara semena-mena. Konselor harus mengendalikan kecenderungan keinginannya untuk menasihati. Upayakan agar pasien berbicara sebanyak-banyaknya tentang dirinya. Sementara itu, dengan sedikit pancingan-pancingan, pembicaraan diarahkan kepada pemecahan masalah yang dihadapi. Dengan demikian, maka seolah-olah “resep” pemecahan masalah itu datang dari diri pasien itu sendiri. Yang demikian itu akan menjadikan komitmen kuat dari pasien untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut.
d. Mengembangkan dialog yang menyentuh perasaan.
Dalam hubungan konseling yang baik, konselor selalu berusaha untuk mengemukakan kata-kata dan butir-butir dialog yang menyentuh perasaan pasien, sehingga memunculkan rasa syukur telah dipertemukan Tuhan dengan seorang penolong. Banyak konselor menggunakan pendekatan agama untuk membuat pasien tersentuh hatinya.
e. Memberikan keteladanan.
Keteladanan sikap dan perilaku konselor bisa menyentuh perasaan pasien, sehingga pada gilirannya ia ingin mencontoh pribadi konselornya. Keteladanan memang merupakan sugesti yang cukup kuat bagi pasien untuk berubah ke arah positif. Motivasi untuk berubah itu disebabkan oleh kepribadian, wawasan, keterampilan, kesalehan, dan kebajikan konselor terhadap pasien. Seolah-olah kepribadian teladan ini merupakan pesan keilahian yang memancar dari dalam diri sang konselor.

2. Bina Suasana
Pemasaran Sosial dalam Promosi Kesehatan Pemberdayaan akan lebih cepat berhasil bila didukung dengan kegiatan menciptakan suasana atau lingkungan yang kondusif. Tentu saja lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan yang diperhitungkan memiliki pengaruh terhadap pasien yang sedang diberdayakan. Kegiatan menciptakan suasana atau lingkungan yang kondusif ini disebut bina suasana.

a.Bagi pasien rawat jalan (orang yang sakit)
Lingkungan yang berpengaruh adalah keluarga atau orang yang mengantarkannya ke rumah sakit. Sedangkan bagi klien rawat jalan (orang yang sehat), lingkungan yang berpengaruh terutama adalah para petugas rumah sakit yang melayaninya. Mereka ini diharapkan untuk membantu memberikan penyuluhan kepada pasien dan juga menjadi teladan dalam sikap dan tingkah laku. Contoh promosi kesehatan teladan tidak merokok, tidak meludah atau membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.
b. Pengantar pasien (orang sakit)
Pengantar pasien tentu tidak mungkin dipisahkan dari pasien untuk misalnya dikumpulkan dalam satu ruangan dan diceramahi. Oleh karena itu, metode yang tepat di sini adalah penggunaan media, seperti misalnya pembagian selebaran (leaflet), pembaangan poster, atau penayangan video berkaitan dengan penyakit dari pasien.
c. Klien yang sehat
Yang berkunjung ke klinik-klinik konseling atau ke kelompok senam, petugas-petugas rumah sakit yang melayani mereka sangat kuat pengaruhnya sebagai panutan. Maka, di tempat-tempat ini pengetahuan, sikap, dan perilaku petugas rumah sakit yang melayani harus benar-benar konsisten dengan pelayanan yang diberikannya. Misalnya: tidak merokok, tidak meludah atau membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.
d. Bagi pasien rawat inap
Lingkungan yang berpengaruh terutama adalah para penjenguk pasien (pembesuk). Pemasaran Sosial dalam Promosi Kesehatan dengan Pembagian selebaran dan pemasangan poster yang sesuai dengan penyakit pasien yang akan mereka jenguk bisa dilakukan. Selain itu, beberapa rumah sakit melaksanakan penyuluhan kelompok kepada para pembesuk ini, yaitu dengan mengumpulkan mereka yang menjenguk pasien yang sama penyakitnya dalam satu ruangan untuk menbisa penjelasan dan berdiskusi dengan dokter ahli dan perawat yang menangani penderita. Pemasaran sosial dalam promosi kesehatan misalnya, tiga puluh menit sebelum jam besuk para penjenguk pasien penyakit dalam diminta untuk berkumpul dalam satu ruangan. Kemudian datang dokter ahli penyakit dalam atau perawat mahir yang mengajak para penjenguk ini berdiskusi tentang penyakit-penyakit yang diderita oleh pasien yang akan dijenguknya, Pada akhir diskusi, dokter ahli penyakit dalam atau perawat mahir tadi berpesan agar hal-hal yang telah di diskusikan disampaikan juga kepada pasien yang akan dijenguk.

Ruang di luar gedung rumah sakit juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan bina suasana kepada para pengantar pasien, para penjenguk pasien, teman/pengantar klien, dan pengunjung rumah sakit lainnya.

3. Advokasi
Advokasi perlu dilakukan, bila dalam upaya memberdayakan pasien dan klien, rumah sakit membutuhkan dukungan dari pihak-pihak lain dalam pemasaran sosial dalam promosi kesehatan. Contoh promosi kesehatan dalam rangka mengupayakan lingkungan rumah sakit yang tanpa asap rokok, rumah sakit perlu melakukan advokasi kepada wakil-wakil rakyat dan pimpinan daerah untuk diterbitkannya peraturan tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang mencakup di rumah sakit. Advokasi merupakan proses yang tidak sederhana. Sasaran advokasi hendaknya diarahkan/dipandu untuk menempuh tahapan-tahapan sebagai berikut:
(1) memahami/menyadari persoalan yang diajukan
(2) tertarik untuk ikut berperan dalam persoalan yang diajukan
(3) mempertimbangkan sejumlah pilihan kemungkinan dalam berperan
(4) menyepakati satu pilihan kemungkinan dalam berperan
(5) menyampaikan langkah tindak lanjut

Jika kelima tahapan tersebut bisa dicapai selama waktu yang disediakan untuk advokasi, maka bisa dikatakan advokasi tersebut berhasil. Langkah tindak lanjut yang tercetus di ujung perbincangan (misalnya dengan membuat disposisi pada usulan/proposal yang diajukan) menunjukkan adanya komitmen untuk memberikan dukungan.

Kata-kata kunci dalam penyiapan bahan advokasi adalah “Tepat, Lengkap, Akurat, dan Menarik”. Artinya bahan advokasi harus dibuat:
a. Sesuai dengan sasaran (latar belakang pendidikannya, jabatannya, budayanya, kesukaannya, dan lain-lain).
b. Sesuai dengan lama waktu yang disediakan untuk advokasi.
c. Mencakup unsur-unsur pokok, yaitu Apa, Mengapa, Dimana, Bilamana, Siapa Melakukan, dan Bagaimana lakukannya (5W + 1H).
d. Memuat masalah dan pilihan-pilihan kemungkinan untuk memecahkan masalah.
e. Memuat peran yang diharapkan dari sasaran advokasi.
f. Memuat data pendukung, bila mungkin juga bagan, gambar, dan lain-lain.
g. Dalam kemasan yang menarik (tidak menjemukan), ringkas, tetapi jelas, sehingga perbincangan tidak bertele-tele.

4. Kemitraan
Baik dalam pemberdayaan, maupun dalam bina suasana dan advokasi, prinsip-prinsip kemitraan harus ditegakkan. Pemasaran sosial dalam promosi kesehatan kemitraan dikembangkan antara petugas rumah sakit dengan sasarannya (para pasien/kliennya atau pihak lain) dalam pelaksanaan pemberdayaan, bina suasana, dan advokasi. Di samping itu, kemitraan juga dikembangkan karena kesadaran bahwa untuk meningkatkan efektivitas Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), petugas rumah sakit harus bekerjasama dengan berbagai pihak terkait, seperti misalnya kelompok profesi, pemuka agama, Lembaga Swadaya Masyarakat, media massa, dan lain-lain.

Tiga prinsip dasar kemitraan yang harus diperhatikan adalah: 
1. Kesetaraan
Kesetaraan menghendaki tidak diciptakannya hubungan yang bersifat hirarkhis (atas-bawah). Semua harus diawali dengan kesediaan menerima bahwa masing-masing berada dalam kedudukan yang sederajat. Keadaan ini bisa dicapai bila semua pihak bersedia mengembangkan hubungan kekeluargaan, yaitu yang dilandasi kebersamaan atau kepentingan bersama.
2. Keterbukaan
Dalam setiap langkah menjalin kerjasama, diperlukan adanya kejujuran dari masing-masing pihak. Setiap usul/saran/komentar harus disertai dengan itikad yang jujur, sesuai fakta, tidak menutup-tutupi sesuatu.
3. Saling menguntungkan
Solusi yang diajukan hendaknya selalu mengandung keuntungan di semua pihak (win-win solution). Misalnya dalam hubungan antara petugas rumah sakit dengan pasien, maka setiap solusi yang ditawarkan hendaknya juga berisi penjelasan tentang keuntungannya bagi si pasien. Demikian juga dalam hubungan antara rumah sakit dengan pihak donatur.

Terbisa tujuh landasan (dikenal dengan sebutan: tujuh saling) yang harus diperhatikan dan dipraktikkan dalam mengembangkan kemitraan, yaitu:
(1) Saling memahami kedudukan, tugas, dan fungsi masing-masing
(2) Saling mengakui kapasitas dan kemampuan masing-masing
(3) Saling berupaya untuk membangun hubungan
(4) Saling berupaya untuk mendekati
(5) Saling terbuka terhadap kritik/saran, serta mau membantu dan dibantu
(6) Saling mendukung upaya masing-masing
(7) Saling menghargai upaya masing-masing

Dalam pelaksanaannya, strategi dasar tersebut diatas harus diperkuat dengan (1) metode dan media yang tepat, serta tersedianya (2) sumber daya yang memadai.
1. Metode dan Media
Metode yang dimaksud di sini adalah metode komunikasi. Memang, baik pemberdayaan, bina suasana, maupun advokasi pada prinsipnya adalah proses komunikasi. Oleh sebab itu perlu ditentukan metode yang tepat dalam proses tersebut. Pemilihan metode harus dilakukan secara cermat dengan memperhatikan kemasan informasinya, keadaan penerima informasi (termasuk sosial budayanya), dan hal-hal lain seperti ruang dan waktu.
Media atau sarana informasi juga perlu dipilih dengan cermat mengikuti metode yang telah ditetapkan. Selain itu juga harus memperhatikan sasaran atau penerima informasi. Bila penerima informasi tidak bisa membaca misalnya, maka komunikasi tidak akan efektif jika digunakan media yang penuh tulisan. Atau bila penerima informasi hanya memiliki waktu yang sangat singkat, maka tidak akan efektif jika dipasang poster yang berisi kalimat terlalu panjang.
2. Sumber Daya
Sumber daya utama yang diperlukan untuk penyelenggaraan PKRS adalah tenaga (Sumber Daya Manusia atau SDM), sarana/ peralatan termasuk media komunikasi, dan dana atau anggaran.
SDM utama untuk PKRS meliputi:
(1) Semua petugas rumah sakit yang melayani pasien (dokter, perawat, bidan, dan lain-lain)
(2) Tenaga khusus promosi kesehatan (yaitu para pejabat fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat).
Semua petugas rumah sakit yang melayani pasien hendaknya memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam konseling. Jika keterampilan ini ternyata belum dimiliki oleh para petugas rumah sakit, maka harus diselenggarakan program pelatihan/kursus.
Beberapa sarana/peralatan yang dipakai dalam kegiatan promosi kesehatan rumah sakit diantaranya:
• TV, LCD
• VCD/DVD player
• Amplifire dan Wireless Microphone
• Computer dan laptop
• Pointer
• Public Address System (PSA)/Megaphone
• Plypchart Besar/Kecil
• Cassette recorder/player
• Kamera foto

Untuk dana atau anggaran PKRS memang sulit ditentukan standar, namun demikian diharapkan rumah sakit bisa menyediakan dana/anggaran yang cukup untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pemasaran sosial dalam promosi kesehatan PKRS.
 2. Bina Suasana
Pemasaran Sosial dalam Promosi Kesehatan Pemberdayaan akan lebih cepat berhasil bila didukung dengan kegiatan menciptakan suasana atau lingkungan yang kondusif. Tentu saja lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan yang diperhitungkan memiliki pengaruh terhadap pasien yang sedang diberdayakan. Kegiatan menciptakan suasana atau lingkungan yang kondusif ini disebut bina suasana.

a.Bagi pasien rawat jalan (orang yang sakit)
Lingkungan yang berpengaruh adalah keluarga atau orang yang mengantarkannya ke rumah sakit. Sedangkan bagi klien rawat jalan (orang yang sehat), lingkungan yang berpengaruh terutama adalah para petugas rumah sakit yang melayaninya. Mereka ini diharapkan untuk membantu memberikan penyuluhan kepada pasien dan juga menjadi teladan dalam sikap dan tingkah laku. Misalnya teladan tidak merokok, tidak meludah atau membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.
b. Pengantar pasien (orang sakit)
Pengantar pasien tentu tidak mungkin dipisahkan dari pasien untuk misalnya dikumpulkan dalam satu ruangan dan diceramahi. Oleh karena itu, metode yang tepat di sini adalah penggunaan media, seperti misalnya pembagian selebaran (leaflet), pembaangan poster, atau penayangan video berkaitan dengan penyakit dari pasien.
c. Klien yang sehat
Yang berkunjung ke klinik-klinik konseling atau ke kelompok senam, petugas-petugas rumah sakit yang melayani mereka sangat kuat pengaruhnya sebagai panutan. Maka, di tempat-tempat ini pengetahuan, sikap, dan perilaku petugas rumah sakit yang melayani harus benar-benar konsisten dengan pelayanan yang diberikannya. Misalnya: tidak merokok, tidak meludah atau membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.
d. Bagi pasien rawat inap
Lingkungan yang berpengaruh terutama adalah para penjenguk pasien (pembesuk). Pemasaran Sosial dalam Promosi Kesehatan dengan Pembagian selebaran dan pemasangan poster yang sesuai dengan penyakit pasien yang akan mereka jenguk bisa dilakukan. Selain itu, beberapa rumah sakit melaksanakan penyuluhan kelompok kepada para pembesuk ini, yaitu dengan mengumpulkan mereka yang menjenguk pasien yang sama penyakitnya dalam satu ruangan untuk menbisa penjelasan dan berdiskusi dengan dokter ahli dan perawat yang menangani penderita. Pemasaran sosial dalam promosi kesehatan misalnya, tiga puluh menit sebelum jam besuk para penjenguk pasien penyakit dalam diminta untuk berkumpul dalam satu ruangan. Kemudian datang dokter ahli penyakit dalam atau perawat mahir yang mengajak para penjenguk ini berdiskusi tentang penyakit-penyakit yang diderita oleh pasien yang akan dijenguknya, Pada akhir diskusi, dokter ahli penyakit dalam atau perawat mahir tadi berpesan agar hal-hal yang telah di diskusikan disampaikan juga kepada pasien yang akan dijenguk.

Ruang di luar gedung rumah sakit juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan bina suasana kepada para pengantar pasien, para penjenguk pasien, teman/pengantar klien, dan pengunjung rumah sakit lainnya.

3. Advokasi
Advokasi perlu dilakukan, bila dalam upaya memberdayakan pasien dan klien, rumah sakit membutuhkan dukungan dari pihak-pihak lain dalam pemasaran sosial dalam promosi kesehatan. Misalnya dalam rangka mengupayakan lingkungan rumah sakit yang tanpa asap rokok, rumah sakit perlu melakukan advokasi kepada wakil-wakil rakyat dan pimpinan daerah untuk diterbitkannya peraturan tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang mencakup di rumah sakit. Advokasi merupakan proses yang tidak sederhana. Sasaran advokasi hendaknya diarahkan/dipandu untuk menempuh tahapan-tahapan sebagai berikut:
(1) memahami/menyadari persoalan yang diajukan
(2) tertarik untuk ikut berperan dalam persoalan yang diajukan
(3) mempertimbangkan sejumlah pilihan kemungkinan dalam berperan
(4) menyepakati satu pilihan kemungkinan dalam berperan
(5) menyampaikan langkah tindak lanjut

Jika kelima tahapan tersebut bisa dicapai selama waktu yang disediakan untuk advokasi, maka bisa dikatakan advokasi tersebut berhasil. Langkah tindak lanjut yang tercetus di ujung perbincangan (misalnya dengan membuat disposisi pada usulan/proposal yang diajukan) menunjukkan adanya komitmen untuk memberikan dukungan.

Kata-kata kunci dalam penyiapan bahan advokasi adalah “Tepat, Lengkap, Akurat, dan Menarik”. Artinya bahan advokasi harus dibuat:
a. Sesuai dengan sasaran (latar belakang pendidikannya, jabatannya, budayanya, kesukaannya, dan lain-lain).
b. Sesuai dengan lama waktu yang disediakan untuk advokasi.
c. Mencakup unsur-unsur pokok, yaitu Apa, Mengapa, Dimana, Bilamana, Siapa Melakukan, dan Bagaimana lakukannya (5W + 1H).
d. Memuat masalah dan pilihan-pilihan kemungkinan untuk memecahkan masalah.
e. Memuat peran yang diharapkan dari sasaran advokasi.
f. Memuat data pendukung, bila mungkin juga bagan, gambar, dan lain-lain.
g. Dalam kemasan yang menarik (tidak menjemukan), ringkas, tetapi jelas, sehingga perbincangan tidak bertele-tele.

4. Kemitraan
Baik dalam pemberdayaan, maupun dalam bina suasana dan advokasi, prinsip-prinsip kemitraan harus ditegakkan. Pemasaran sosial dalam promosi kesehatan kemitraan dikembangkan antara petugas rumah sakit dengan sasarannya (para pasien/kliennya atau pihak lain) dalam pelaksanaan pemberdayaan, bina suasana, dan advokasi. Di samping itu, kemitraan juga dikembangkan karena kesadaran bahwa untuk meningkatkan efektivitas Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), petugas rumah sakit harus bekerjasama dengan berbagai pihak terkait, seperti misalnya kelompok profesi, pemuka agama, Lembaga Swadaya Masyarakat, media massa, dan lain-lain.

Tiga prinsip dasar kemitraan yang harus diperhatikan adalah:
1. Kesetaraan
Kesetaraan menghendaki tidak diciptakannya hubungan yang bersifat hirarkhis (atas-bawah). Semua harus diawali dengan kesediaan menerima bahwa masing-masing berada dalam kedudukan yang sederajat. Keadaan ini bisa dicapai bila semua pihak bersedia mengembangkan hubungan kekeluargaan, yaitu yang dilandasi kebersamaan atau kepentingan bersama.
2. Keterbukaan
Dalam setiap langkah menjalin kerjasama, diperlukan adanya kejujuran dari masing-masing pihak. Setiap usul/saran/komentar harus disertai dengan itikad yang jujur, sesuai fakta, tidak menutup-tutupi sesuatu.
3. Saling menguntungkan
Solusi yang diajukan hendaknya selalu mengandung keuntungan di semua pihak (win-win solution). Misalnya dalam hubungan antara petugas rumah sakit dengan pasien, maka setiap solusi yang ditawarkan hendaknya juga berisi penjelasan tentang keuntungannya bagi si pasien. Demikian juga dalam hubungan antara rumah sakit dengan pihak donatur.

Terbisa tujuh landasan (dikenal dengan sebutan: tujuh saling) yang harus diperhatikan dan dipraktikkan dalam mengembangkan kemitraan, yaitu:
(1) Saling memahami kedudukan, tugas, dan fungsi masing-masing
(2) Saling mengakui kapasitas dan kemampuan masing-masing
(3) Saling berupaya untuk membangun hubungan
(4) Saling berupaya untuk mendekati
(5) Saling terbuka terhadap kritik/saran, serta mau membantu dan dibantu
(6) Saling mendukung upaya masing-masing
(7) Saling menghargai upaya masing-masing

Dalam pelaksanaannya, strategi dasar tersebut diatas harus diperkuat dengan (1) metode dan media yang tepat, serta tersedianya (2) sumber daya yang memadai.
1. Metode dan Media
Metode yang dimaksud di sini adalah metode komunikasi. Memang, baik pemberdayaan, bina suasana, maupun advokasi pada prinsipnya adalah proses komunikasi. Oleh sebab itu perlu ditentukan metode yang tepat dalam proses tersebut. Pemilihan metode harus dilakukan secara cermat dengan memperhatikan kemasan informasinya, keadaan penerima informasi (termasuk sosial budayanya), dan hal-hal lain seperti ruang dan waktu.
Media atau sarana informasi juga perlu dipilih dengan cermat mengikuti metode yang telah ditetapkan. Selain itu juga harus memperhatikan sasaran atau penerima informasi. Bila penerima informasi tidak bisa membaca misalnya, maka komunikasi tidak akan efektif jika digunakan media yang penuh tulisan. Atau bila penerima informasi hanya memiliki waktu yang sangat singkat, maka tidak akan efektif jika dipasang poster yang berisi kalimat terlalu panjang.
2. Sumber Daya
Sumber daya utama yang diperlukan untuk penyelenggaraan PKRS adalah tenaga (Sumber Daya Manusia atau SDM), sarana/ peralatan termasuk media komunikasi, dan dana atau anggaran.
SDM utama untuk PKRS meliputi:
(1) Semua petugas rumah sakit yang melayani pasien (dokter, perawat, bidan, dan lain-lain)
(2) Tenaga khusus promosi kesehatan (yaitu para pejabat fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat).
Semua petugas rumah sakit yang melayani pasien hendaknya memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam konseling. Jika keterampilan ini ternyata belum dimiliki oleh para petugas rumah sakit, maka harus diselenggarakan program pelatihan/kursus.
Beberapa sarana/peralatan yang dipakai dalam kegiatan promosi kesehatan rumah sakit diantaranya:
• TV, LCD
• VCD/DVD player
• Amplifire dan Wireless Microphone
• Computer dan laptop
• Pointer
• Public Address System (PSA)/Megaphone
• Plypchart Besar/Kecil
• Cassette recorder/player
• Kamera foto

Untuk dana atau anggaran PKRS memang sulit ditentukan standar, namun demikian diharapkan rumah sakit bisa menyediakan dana/anggaran yang cukup untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan Pemasaran sosial dalam promosi kesehatan PKRS.
Read More

Ketetapan Pelaksanaan Survei Akreditasi Ulang

Salinan Surat edaran no 2163/SE/KARS/VII/2015 tentang waktu pelaksanaan survei akreditasi ulang dan survei akreditasi verifikasi

Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Skait wajib dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3(tiga) tahun sekali, sebagaimana dimaksud dalam pasal 40 undang undang nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, dengan ini ditetapkan hal-hal sebagi berikut :

1. Survei akreditasi ulang untuk rumah sakit yang tidak terakreditasi wajib dilaksanakan dalam waktu 1 (satu) tahun setelah tanggal survei akreditasi sebelumnya.

2.Surveiakreditasi verifikasi wajib dilaksanakan setiap tahun sebelum tanggal akreditasi sebelumnya.
Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 2 Juli 2015

KOMISI AKREDITASI RUMAH SAKIT
Ketua Eksekutif

DR.dr.Sutoto,M.Kes

Read More

Implementasi Standar Pelayanan Anestesi dan Bedah


Komisi akreditasi rumah sakit (KARS) adalah lembaga independen pelaksana akreditasi rumah sakit yang bersifat fungsional, non structural yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan akreditasi rumah sakit di Indonesia.

Akreditasi rumah sakit pertama kali dilaksanakan pada tahun 1995 dengan 5 pelayanan, kemudian pada tahun 1998 bertambah menjadi 12 pelayanan dan pada tahun 2001 menjadi 16 pelayanan. Namun sejalan dengan perkembangan akreditasi di tingkat global dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap mutu pelayanan di rumah sakit, maka pada tahun 2012 telah terjadi perubahan akreditasi rumah sakit di Indonesia.
Standar akreditasi yang semula berfokus pada provider telah berubah menjdai berfokus pada pasien. Disisi lain survey akreditasi yang semula lebih pada dokumetasi telah berubah dengan menggunakan metode telusur, baik telusur individu/pasien maupun telusur system.

Pelayanan anestesi dan bedah merupakan pelayanana yang beresiko dan sering mempunyai resiko tinggi, di sisi lain sering terjadi kejadian yang tidak diharapkan dipelayanan anestesi dan bedah yang pada akhirnya bisa menjadi kasus medico legal yang berdampak pada tuntutan rumah sakit. Karena itu dalam rangka memberikan pelayanan anestesi dan bedah perlu memperlihatkan aspek keselamatan pasien dan hak pasien.

Berdasarkan hal tersebut di atas dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan anestesi dan bedah maka komisi akreditasi rumah sakit akan menyelenggarakan workshop implementasi standar pelayanan anestesi dan bedah dan hak pasien.

Tujuan dari workshop implementasi standar pelayanan anestesi dan bedah dan hak pasien 2015 ini adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan anestesi dan bedah, meningkatkan pemahaman dan implementasi hak pasien dan keluarga dalam pelayanan anestesi dan bedah, pemahaman dan implementasi tentang genarl consent, pemahaman tentang penanganan kasus medico legal, dan meningkatkan pemahaman resiko terkait implementasi hak pasien dan keluarga dalam pelayanan anestesi dan bedah.

Workshop implementasi standar pelayanan anestesi dan bedah dan hak pasien 2015 ini akan diselenggarakan pada 4-5 Desember 2015 bertempat di Hotel Ciputra Jl. Letnan Jendral S. Parman Jakarta 11470. Untuk informasi lebih detil mengenai workshop implementasi standar pelayanan anestesi dan bedah dan hak pasien dapat SMS ke Dr.Luwiharsih 0811151142; Dra.M.Amatyah 081584296763.
Read More

Cara Mendaftar BPJS Kesehatan Pekerja Penerima Upah

Cara Mendaftar BPJS Kesehatan Pekerja Penerima Upah - Untuk melakukan pendaftaran jadi peserta BPJS Kesehatan Pekerja Penerima Upah bisa mendaftarkan secara pribadi ataupun juga secara bersama-sama (kolektif). Adapun persyaratan untuk mendaftar BPJS Kesehatan secara kolektif  syarat yang harus dipenuhi adalah mengisi dan menyerahkan Formulir Daftar Isian Peserta serta melampirkan Pas foto berwarna terbaru ukuran 3 x 4 cm masingmasing 1 (satu) lembar. Pendaftaran secara berkelompok kolektif disampaikan dalam bentuk format data yang disepakati.

Pendaftaran BPJS bagi pekerja penerima upah dapat juga melakukan pendaftaran BPJS Kesehatan secara perorangan. Yang dimaksudkan dengan pekerja penerima upah itu terdiri dari para pejabat negara, pegawai negeri sipil, Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan pada BUMN/BUMD, Anggota TNI dan POLR, Pejabat Negara Non Pegawai Negeri (Presiden, Menteri, Gubernur/Wkl Gubernur, Bupati/Wkl Bupati, Walikota/Wakil Walikota, DPR, DPD, DPRD), Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri dan para pegawai swasta/badan usaha/badan Lainnya.

Secara rinci persyaratan Cara Mendaftar BPJS Kesehatan Pekerja Penerima Upah adalah sebagai berikut:

Cara mendaftar BPJS Kesehatan Pejabat Negara : Mengisi Formulir Daftar Isian Peserta (FDIP) dilampiri dengan pas foto berwarna terbaru masing-masing 1 (satu) lembar ukuran 3 cm x 4 cm (kecuali bagi anak usia balita), serta menunjukkan / memperlihatkan dokumen :
1. Asli/foto copy petikan SK Penetapan sebagai Pejabat Negara yangdilegalisasi; Daftar Gaji yangdilegalisasi oleh pimpinan unit kerja; KP4 yang dilegalisasi; Kartu Keluarga danKTP (diutamakan KTP elektronik);
2. Foto copy surat nikah; akte kelahiran anak/suratketerangan lahir/SK PengadilanNegeri untuk anak angkat;
3. Surat Keterangan dari sekolah/perguruan tinggi (bagi anak berusialebih dari 21 tahun sampai dengan
usia ke 25 tahun).

Cara mendaftar BPJS Kesehatan Pegawai Negeri Sipil ; Mengisi FormulirDaftar Isian Peserta (FDIP) yang di tandatangani oleh pimpinan unit kerja danstempel unit kerja. Daftar Isian Pesertadilampiri dengan pas foto terbarumasing-masing 1 (satu) lembar ukuran103x4 cm (kecuali bagi anak usia balita);serta menunjukkan/ memperlihatkan dokumen:
1. Asli/foto copy SK PNS terakhir; Daftar Gaji yangdilegalisasi oleh pimpinan unit kerja; KP4 yang dilegalisasi; Kartu Keluarga danKTP (diutamakan KTP elektronik);
2. Foto copy surat nikah; akte kelahiran anak/suratketerangan lahir/SK PengadilanNegeri untuk satu anak angkat yang ditanggung;
3. Surat Keterangan dari sekolah/perguruan tinggi (bagi anak berusialebih dari 21 tahun sampai dengan
usia ke 25 tahun).

Cara mendaftar BPJS Kesehatan Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan pada BUMN/BUMD ; Mengisi FormulirDaftar Isian Peserta (FDIP) yang di tandatangani oleh pimpinan unit kerja danstempel unit kerja. Daftar Isian Pesertadilampiri dengan pas foto terbarumasing-masing 1 (satu) lembar ukuran3x4 cm (kecuali bagi anak usia balita);serta menunjukkan/ memperlihatkan :
1. Asli/foto copy SK PNS yangdipekerjakan pada BUMN/BUMD; Daftar Gaji yangdilegalisasi oleh pimpinan unit kerja; Kartu Keluarga danKTP (diutamakan KTP elektronik);
2. Foto copy surat nikah; akte kelahiran anak/suratketerangan lahir/SK PengadilanNegeri untuk anak angkat;
3. Surat Keterangan dari sekolah/perguruan tinggi (bagi anak berusialebih dari 21 tahun sampai dengan
usia ke 25 tahun).

Cara mendaftar BPJS Kesehatan Anggota TNI dan POLRI ; MengisiFormulir Daftar Isian Peserta (FDIP)dengan melampirkan pas foto terbarumasing-masing 1 (satu) lembar ukuran3x4 cm (kecuali bagi anak usia balita)serta menunjukkan/memperlihatkandokumen sebagai berikut :
1. Asli/foto copy SK kepangkatanterakhir; Daftar Gaji yangdilegalisasi oleh pimpinan unit kerja; KU 1 yang dilegalisasi; Kartu Keluarga danKTP (diutamakan KTP elektronik);
2. Foto copy surat nikah; akte kelahiran anak/suratketerangan lahir/SK PengadilanNegeri untuk satu anak angkat yang ditanggung;
3. Surat Keterangan dari sekolah/perguruan tinggi (bagi anak berusialebih dari 21 tahun sampai dengan
usia 25 tahun).

Cara mendaftar BPJS Kesehatan Pejabat Negara Non Pegawai Negeri;Mengisi Formulir Daftar Isian Peserta(FDIP) dengan melampirkan pasfoto berwarna terbaru ukuran 3x4cm masing-masing 1 (satu) lembar(kecuali bagi anak usia balita) serta menunjukkan :
1. Asli/foto copy SK pengangkatansebagai pejabat Negara; Kartu Keluarga dan KTP (diutamakan KTP elektronik);
2. Foto copy surat nikah;akte kelahiran anak/suratketerangan lahir/SK PengadilanNegeri untuk anak angkat;
3. Surat Keterangan dari sekolah/perguruan tinggi (bagi anak berusialebih dari 21 tahun sampai dengan
usia 25 tahun).

Cara mendaftar BPJS Kesehatan Pegawai Pemerintah Non PegawaiNegeri; Mengisi Formulir Daftar IsianPeserta (FDIP) dengan melampirkanpas foto berwarna terbaru ukuran 3x4cm masing-masing 1 (satu) lembar(kecuali bagi anak usia balita) sertamenunjukkan/memperlihatkandokumen sebagai berikut :
1. Asli/foto copy SK Pengangkatan dari kementerian/lembaga; Daftar Gaji yangdilegalisasi oleh pimpinan unit kerja;
2. Foto copy KTP (diutamakan KTPelektronik);surat nikah;Foto copy aktekelahiran anak/surat keteranganlahir/SK Pengadilan Negeri untuk
anak angkat;
3. Surat Keterangan dari sekolah/perguruan tinggi (bagi anak berusialebih dari 21 tahun sampai dengan
usia 25 tahun).

Cara mendaftar BPJS Kesehatan Pegawai Swasta/Badan Usaha/BadanLainnya; Mengisi Formulir Daftar IsianPeserta (FDIP) dengan melampirkan pasfoto berwarna terbaru ukuran 3x4 cmmasing-masing 1 (satu) lembar (kecualibagi anak usia balita) serta menunjukkan/memperlihatkan :
1. Bukti diri sebagai Tenaga Kerja /karyawan aktif pada perusahaan;
2. Perjanjian Kerja / SK pengangkatansebagai pegawai;
3. Asli/foto copy Kartu Keluarga dan KTP(diutamakan KTP elektronik);;
4. Bukti potongan iuran JaminanKesehatan;
5. Foto copy surat nikah;
6. Foto copy akte kelahiran anak/suratketerangan lahir/SK Pengadilan Negeriuntuk anak angkat;
7. Bagi WNA menunjukan Kartu Ijin TinggalSementara/Tetap (KITAS/KITAP). 

Demikian Cara Mendaftar BPJS Kesehatan pekerja penerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, semoga bermanfaat.
Read More

Seminar Sehari Infection Control Program

Seminar Sehari Infection Control Program In OR - “Health care Associated Infections (HAIs) merupakan komplikasi yang paling sering terjadi di pelayanan kesehatan. HAIs selama ini dikenal sebagai infeksi Nosokomial atau disebut sebagai infeksi di rumah sakit “Hospital Acquired Infections” merupakan persoalan serius karena angka kejadiannya terus meningkat mencapai sekitar 9% (Variasi 3-21%) atau lebih dari 1.4 juta pasien rawat inap di rumah sakit seluruh dunia.

Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu pasien merupakan kelompok yang berisiko mendapat HAIs. Infeksi ini dapat terjadi melalui penularan dari pasien kepada petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien kepada pengunjung atau keluarga mapun dari petugas ke pasien. Dengan demikian akan menyebabkan peningkatan angka morbiditas, mortalitas, peningkatan lama hari rawat dan peningkatan biaya rumah sakit.

Dengan melihat hal di atas, perawat kamar bedah dituntut untuk selalu memberikan pelayanan yang berkualitas dengan selalu memperhatikan factor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan angka infeksi . Memotivasi perawat kamar bedah untuk secara berkesinambungan meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam ilmu keperawatan kamar bedah sebagai bagian dari tim bedah dalam kamar bedah.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh organisasi profesi dalam hal ini pengurus daerah HIPKABI Jawa barat mengundang sejawat perawat kamar bedah di seluruh Indonesia untuk menghadiri seminar sehari dalam memperingati HUT HIPKABI ke 15 yang akan diselenggarakan di kota Jawa Barat.

Seminar sehari dengan tema Infection Control Program In OR ini akan diselenggarakan di Grand Royal Panghegar Bandung Jl. Merdeka No.2 Jawa Barat tanggal 13-14 November 2015 pukul 08.00Wib. Untuk informasi lebih lanjut mengenai seminar sehari Infection Control Program In OR dapat menghubungi Suatmaji 081316285104; Suyatno 08129015582; Asep 081224737090; Abdul 081312629861; Melly08122496348.
Read More

Workshop Radiologi 2015 dan Kongres XIII PARI

Tantangan radiografer Indonesia di tahun 2016 menghadapi pasar bebas ASEAN menuntut Perhimpunan radiografer Indonesia (PARI) untuk lebih aktif mendorong anggotanya agar lebih meningkatkan kemampuan kompetensi dan profesionalisme keahliannya untuk dapat bersaing dengan radiografer ASEAN.

Kongres XIII PARI akan menjadi tonggak penting dalam perkembangan organisasi karena periode ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pemetaaan dan evaluasi organiasai baik visi, misi dan program kerja, karena eksistensi sebuah organisasi hendaknya dilahirkan dari cara pengelolaan organisasi yang demokratis, terbuka memenuhi nilai akuntanbilitas, good governence and clean governence yang harus dilaksanakan oleh seluruh anggota PARI.

Tujuan diadakan kegiatan ini adalah sebagai tempat bertukar informasi sesama anggota  dan sebagai ajang pertanggungjawaban laporan program kerja pengurus pusat PARI periode 2011-2015. Dalam acara ini juga akan dipilih pegurus PARI untuk periode 2015-2019,

Acara ini akan diselenggarakan pada hari Jumat tanggal 13-15 November 2015 dan bertempat di Hotel Pullman Surabaya No.67-73 Jl. Basuki Rahmat Kota Surabaya . Materi yang akan disampaikan terkait dengan teknologi radiologi terkini meliputi radiologi konvensional, CT Scan, MRI, USG,Radioterapi dan kedokteran nuklir. Juga mengenai arah kebijakan kemenkes dalam pembinaan radiografer dihubungkan dengan re-organisasi kemenkes sesuai dengan nawacita dan aspek pidana profesi radiografer dihubungkan dengan perka BAPETEN.

Workshop radiologi 2015 dan kongres XIII PARI dengan mengambil tema membangkitkan kebanggaan profesi radigrafer sebagai dasar dalam memberikan pelayanan yang memenuhi kode etik dan standar profesi. Diselenggarakan oleh Perhimpunan Radiografer Indonesia, untuk informasi lengkap dapat menghubungi Puji 08111115945; Mas 081330489512; Abdul 082140280004.
Read More